RSS

Sistem Penglihatan

10 Mei

SISTEM PENGLIHATAN

1. Anatomi & Fisiologi & Patofisiologi Penglihatan

a. Anatomi Mata

• Struktur mata tambahan

Mata dilindungi dari kotoran dan benda asing oleh alis, bulu mata dan kelopak mata. Konjungtiva adalah suatu membran tipis yang melapisi kelopak mata ( konjungtiva palpebra), kecuali darah pupil. Konjungtiva palpebra melipat kedalam dan menyatu dengan konjungtiva bulbar membentuk kantung yang disebut sakus konjungtiva. Konjungtiva melindungi mata dan mencegah mata dari kekeringan. Kelenjar lakrimalis teletak pada sebelah atas dan lateral dari bola mata. Kelenjar lakrimalis mengsekresi cairan lakrimalis. Air mata berguna untuk membasahi dan melembabkan kornea, kelebihan sekresi akan dialirkan ke kantung lakrimalis yang terletak pada sisi hidung dekat mata dan melalui duktus nasolakrimalis untuk kehidung.

• Bola Mata

Bola mata disusun oleh tiga lapisan, yaitu : sklera, koroid, dan retina. Lapisan terluar yang kencang atau sklera tampak putih gelap dan ada yang bening yaitu pada bagian iris dan pupil yang membantuk kornea. Lapisan tengah yaitu koroid mengandung pembuluh – pembuluh darah yang arteriolnya masuk kedalam badan siliar yang menempel pada ligamen suspensori dan iris. Lapisan terdalam adalah retina yang tidak mempunyai bagian anterior mengandung reseptor cahaya ( fotoreseptor ) yang terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Reseptor cahaya melakukan synap dengan saraf – saraf bipolar diretina dan kemudian dengan saraf – saraf ganglion diteruskan keserabut saraf optikus. Sel kerucut lebih sedikit dibanding sel batang. Sel kerucut dapat ditemukan di dekat pusat retina dan diperkirakan menjadi reseptor terhadap cahaya terang dan penglihatan warna. Sel – sel batang mengandung rhodopsin yaitu suatu protein fotosintetif yang cepat berkurang dalam cahaya terang. Regenerasi rhodopsin bersifat lambat tergantung pada tersedianya vitamin A, mata memerlukan waktu untuk beradaptasi dari terang ke gelap. Defisiensi vitamin A mempengaruhi kemampuan melihat dimalam hari.

• Ruangan pada mata
Bagian dalam bola mata terdiri dari 2 rongga ; anterior dan posterior. Rongga anterior teletak didepan lensa, selanjutnya dibagi lagi kedalam dua ruang ; ruang anterior ( antara kornea dan iris ) dan ruang posterior ( antara iris dan lensa ). Rongga anterior berisi cairan bening yang dinamakan humor aqueous yang diproduksi dalam badan ciliary, mengalir kedalam ruang posterior melewati pupil masuk keruang anterior dan dikeluarkan melalui saluran schelmm yang menghubungkan iris dan kornea ( sudut ruang anterior ).

• Iris dan lensa
Iris adalah membran membentuk cairan ( bundar ) mengandung dilator involunter dan otot – otot spingter yang mengatur ukuran pupil. Pupil adalah ruangan ditengah – tengah iris, ukuran pupil bervariasi dalam merespon intensitas cahaya dan memfokuskan objek (akomodasi ) untuk memperjelas penglihatan, pupil mengecil jika cahaya terang atau untuk penglihatan dekat.
Lensa mata merupakan suatu kristal, berbentuk bikonfek ( cembung ) bening, terletak dibelakang iris, terbagi kedalam ruang anterior dan posterior. Lensatersusun dari sel – sel epitel yang dibungkus oleh membrab elastis, ketebalannya dapat berubah – ubah menjadi lensa cembung bila refraksi lebih besar.

• Otot – otot mata
Terdiri dari dua tipe, ekstrinsik dan intrinsik. Otot – otot intrinsi bersifat volunter (dibawah sadar), diluar bola mata yang mengontrol pergerakan diluar mata. Otot – otot intrinsik bersifat involunter ( tidak disadari ) berada dalam badan ciliary yang mengontrol ketebalan dan ketipisan lensa, iris dan ukuran pupil.

• Sudut filtrasi
Sudut filtrasi ini terdapat didalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan akhir dari membran descemet dan membran bowman lalu ke posterior 0,75 mm, kemudian kedalam mengelilingi kanal schelmm dan trabekula sampai ke COA. Akhir dari membran descemet disebut garis schwalbe. Limbus terdiri dari 2 lapisan epitel dan stroma. Epitelnya dua kali setebal epitel kornea. Didalam stromanya terdapat serat – serat saraf dan cabang akhir dari A. siliaris anterior. Bagian terpenting dari sudut foltrasi adalah trabekula, yang terdiri dari :

1. Trabekula korneoskeral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea dan menuju kebelakang, mengelilingi kanal schelmm untuk berinsersi pada sklera.

2. Trabekula uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea, menuju ke skleralspur ( insersi dari m. siliarir ) dan sebagian ke m. siliaris meridional.

3. Serabut berasal dari akhir membran descemet ( garis schwalbe ), menuju kejaringan pengikat m. siliaris radialis dan sirkularis.

4. Ligamentum pektinatum rudimenter, berasaal dari dataran depan iris menuju ke depan trabekula. Trabekula terdiri dari jaringan kolagen, jaringan homogen, elastis, dan seluruhnya diliputi endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus pandang, sehingga bila ada darah dalam canal schelmm, dapat terlihat dari luar.

b. Fisiologi Penglihatan

• Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi.

• Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Penglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dibantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.

• Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.

• Tekanan dalam bola mata (intra occular pressure/IOP)
Tekanan dalam bola mata dipertahankan oleh keseimbangan antara produksi dan pengaliran dari humor aqueous. Pengaliran dapat dihambat oleh bendungan pada jaringan trabekula (yang menyaring humor aquoeus ketika masuk kesaluran schellem) atau dengan meningkatnya tekanan pada vena-vena sekitar sclera yang bermuara kesaluran schellem. Sedikit humor aqueous dapat maengalir keruang otot-otot ciliary kemudian ke ruang suprakoroid. Pemasukan kesaluran schellem dapat dihambat oleh iris. Sistem pertahanan katup (Valsava manuefer) dapat meningkatkan tekanan vena. Meningkatkan tekanan vena sekitar sklera memungkinkan berkurangnya humor aquoeus yang mengalir sehingga dapat meningkatkan IOP. Kadang-kadang meningkatnya IOP dapat terjadi karena stress emosional.

2.  PENGKAJIAN

  • Ø Riwayat Kesehatan

a. Data Demografi

Usia, Kasus Katarak, Mata Kering, Retinal Detachment, Glaukoma, entropion, ectropion, akan meningkat dengan bertambahnya usia, Sex

b. Keluhan Utama

Yang paling sering : perubahan penglihatan berkurang atau hilang.

Kurang spesifik : sakit kepala(headache) & nyeri pada mata.

  • Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Pengkajian difokuskan pada status kesehatan secara umum. Secara khusus : kaji tentang kelainan sistemik yang berhubungan dengan manifestasi okuler seperti DM, hipertensi, gangguan thyroid. Masa kecil dan Penyakit infeksi. Major ilnesses and hospitalization. Pengobatan serta Alergi.

  • Riwayat Kesehatan Keluarga

Beberapa keadaan yang mempunyai tendensi dengan keluarga terhadap kelainan okuler, antara lain : Strabismus, glaucoma,myopia dan hyperopia.

  • Riwayat Psikososial dan Pola Hidup

Riwayat psikososial dan pola hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan mata, antara lain : Pekerjaan, hoby, kegiatan di waktu luang

  • Ø Tanda dan Gejala

Gejala abnormal pada mata dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

1. Abnormal Vision ( Abnormal Penglihatan ) : Perubahan atau kehilangan penglihatan dapat terjadi akibat ketidaknormalan pada mata spt:

- Kelainan refraksi     – malfungsi retina, saraf optikus.

- lid ptosis

- kekeruhan pada kornea, lensa, rongga aqueous/vitreous

2.  Abnormal appearance : Yang paling sering mata merah bisa disebabkan oleh iritasi ringan, kongesti vaskuler, perdarahan sub conjunctiva, infeksi, alergi, trauma.

3.  Abnormal Sensasi : Nyeri mata  Sulit ditentukan lokasinya nyeri seperti ditarik, seperti ditekan, sakit kepala. Rasa nyeri bisa : periokuler, okuler, retrobulbar.

Nyeri tajam superfisial : benda asing.

Nyeri bagian dalam      : Glaukoma, inflamasi, muscle spasm, infeksi.

Nyeri alis dan photophobia, meiosis : spasme, muskulus siliaris dan iris akibat adanya inflamasi.

Mata gatal                     : reaksi alergi.

Mata berair                   : iritasi, gangguan sistem lakrimalis.

Sekresi                          : iritasi, infeksi, alergi.

  • Ø Pemeriksaan Fisik Mata

a. Pemeriksaan Mata External : Posisi mata, Alis mata, Palpebra & Bulu mata. Refleks berkedip, Bola mata, Aparatus lakrimalis, Conjunctiva dan sclera, Cornea, Reflex cornea, Iris dan pupil.

b. Pemeriksaan Motilitas Bola Mata: Untuk mendapatkan mata tentang otot luar bola mata, orbita,saraf kranial III, IV dan VI, brainstem dan korteks serebral. Normal: ke 2 bola mata bergerak mengikuti Pandangan 6 arah.

c. Pemeriksaan Penglihatan

1. Visual Acuity (Ketajaman Penglihatan) : Pemeriksaan V.A. merupakan metoda yang rutin & standar untuk menentukan keadaan media okuler (cornea, lensa dan vitreous) dan fungsi pathway penglihatan dari retina sampai ke otak.

2. Visual Fields ( Lapangan Pandang) :Pemeriksaan lapangan pandang dilakukan untuk mengevaluasi penglihatan perifer. Normal visual fields adalah :

50 ° arah superior, 90 ° arah lateral,70 ° arah inferior, 60 ° arah medial.

d. Pemeriksaan Mata Internal

1. Opthalmoscopy : Untuk memeriksa bola mata bagian dalam / fundus mata.

2. Goniometry       :  Untuk menentukan tekanan bola mata. Normal : 8 – 21 mmHg.

3. Slit lamp (Lampu Celah) : Untuk memeriksa penyakit / kelainan pada kelopak mata dan bola mata yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

  • Ø Lapang Pandang

Prinsip: Mengenal obyek atau menghilangnya obyek itu di luar dan di dalam daerah lapang pandang. Mata yang diperiksa harus tetap mengarah pada titik fiksasi sentral. Obyek yang digerakkan perlu dicatat : Warna, besarnya. Demikian juga jarak dari mata ke titik fiksasi sentral (1/3,1,2m). Penderita yang kurang mengerti atau kurang kerjasama, sulit untuk diperiksa secara seksama. Warna yang umum : putih. Besar obyek : kecil untuk lapang pandangan perifer (5mm atau lebih tergantung derajat persepsi mata). Pengukuran dapat dipakai kampimeter dan perimeter untuk mengukur lapang pandangan perifer, dan tabir Bjerrum untuk lapang pandangan sentral. Bidang lengkung yang terutama berguna untuk pemeriksaan lapang pandangan perifer. Pemeriksaan lapang pandang perifer yang sederhana. Jarak pemeriksa ke penderita 60 cm, berhadap-hadapan, sama tinggi. Tutup sebelah mata masing-masing, yang sehadap. (Penderita menutup dengan tangannya sendiri atau penutup hitam, dan pemeriksa memicingkan). Titik fiksasi adalah jari telunjuk pemeriksa yang ditetapkan di tengah antara mata masing-masing yang terbuka. Obyek adalah jari telunjuk tangan pemeriksa yang sebelahnya, yang digerakkan dari arah perifer kearah jari fiksasi, dari segala arah. Penilaian : Membandingkan apakah saat pemeriksa sudah melihat dari (obyek) yang digerakkan, penderita juga demikian. Untuk lapang pandang sebelah arah jari fiksasi, ganti peranan dari jari, yang jadi titik fiksasi sekarang jadi obyek dan sebaliknya.

  • Ø TONOMETRI

Cara penderita ditidurkan tanpa bantal Tetesi mata dengan tetes mata pantokain Bersihka telapak tonometer dengan kasa, yang dibasahi alkohol dan dibiarkan menguap dulu. Penderita disuruh membuka kedua matanya dan menatap lurus kertas pada ujung jarinya sendiri yang diposisikan tepat diatas mata yang tak diukur. Pegang tonometer pada pemegangnya dan dekatkan telapatnya dengan hati – hati kepermukaan kornea. Perlu memperingatkan penderita berulang – ulang supaya menatap terus tegak lurus keatas, baca skala yang tertunjuk, kalau perlu ulang 2 – 3 kali Bila skala bergoyang, ambil rata – ratanya Lihat nilai tekanan dalam daftar konversi untuk beban yang dipakai.

  • Ø Kelainan Refraksi

Keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata. Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

  • Ø Kesan Terhadap Warna

Satu lensa. Di belakang lensa mata akan terjadi bayangan terbalik karena sifat optik dari lensa. Selanjutnya bayangan ini diubah menjadi sinyal-sinyal biolistrik oleh retina untuk disampaikan ke otak. Akhirnya orang mendapatkan kesan melihat benda tersebut setelah otak menangkap dan mengolah sinyal-sinyal tersebut.

Mata manusia dapat melihat karena adanya pantulan cahaya dari benda. Cahaya yang dapat ditangkap oleh mata manusia berada pada daerah optik dengan rentang panjang gelombang 350-780 nm. Intensitas cahaya dinyatakan sebagai sebaran energi I(λ) dan mata manusia sanggup beroperasi pada 10 orde derajat luminansi.

Rerpresentasi Warna

Warna yang dilihat mata bergantung pada kandungan spektral (komposisi panjang gelombang), misalnya cahaya dengan kandungan spektral tinggi pada daerah 700 nm akan menunjukkan warna merah.

3. Prosedur Diagnostik

  • Ø Fluorescein Angiografi
    adalah tes yang memungkinkan pembuluh darah di belakang mata untuk difoto sebagai pewarna neon disuntikkan ke dalam aliran darah melalui tangan atau lengan. Hal ini terutama berguna dalam pengelolaan retinopati diabetes dan degenerasi makula. Natrium fluorescein adalah senyawa kimia yang sangat neon yang menyerap cahaya biru dengan fluoresensi. Meskipun sering disebut sebagai fluorescein, pewarna yang digunakan dalam angiografi fluorescein adalah natrium, garam natrium dari fluorescein. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa itu adalah ‘sayur pewarna’ bukan sintetis.

Prosedur
Pasien akan dilebarkan dengan tetes mata dan pewarna kuning disuntikkan ke pembuluh darah di lengan Anda. Selama injeksi, bisa ada perasaan hangat atau flush panas dapat dialami. Ini hanya berlangsung detik dan kemudian menghilang. Setelah injeksi, foto yang diambil dengan cepat selama sekitar 60 detik sebagai pewarna memasuki pembuluh di bagian belakang mata Anda. Lampu menyala pada Anda mungkin terlihat cerah namun tidak akan merusak mata Anda. Adalah umum bagi kulit menjadi kuning pucat dan urin kuning neon berwarna setelah prosedur dan ini mungkin memerlukan dua hari untuk luntur.

  • Tes Fluorescein
    Ini adalah tes yang menggunakan pewarna oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada kornea, permukaan luar mata.

Prosedur
Sepotong kertas blotting yang mengandung pewarna akan tersentuh ke permukaan mata Anda. Anda akan diminta untuk berkedip. Berkedip menyebar pewarna sekitar dan melapisi “film air mata” menutupi permukaan kornea. (Film air mata mengandung air, minyak, dan lendir untuk melindungi dan melumasi mata.)
Lampu biru ini kemudian diarahkan ke mata Anda. Setiap masalah pada permukaan kornea akan diwarnai dengan pewarna dan tampak hijau di bawah cahaya biru.
Penyedia perawatan kesehatan dapat menentukan lokasi dan penyebab kemungkinan masalah kornea tergantung pada ukuran, lokasi, dan bentuk pewarnaan.

Persiapan Diri
Anda harus menghapus lensa kontak Anda sebelum ujian.
Jika mata sangat kering, kertas blotting mungkin sedikit gatal. Pewarna dapat menyebabkan sensasi menyengat ringan dan singkat.
Tes ini berguna dalam mengidentifikasi goresan dangkal atau masalah lain dengan permukaan kornea. Hal ini juga dapat membantu mengungkapkan benda asing pada permukaan mata. Hal ini dapat digunakan setelah kontak yang diresepkan untuk menentukan apakah ada iritasi pada permukaan kornea.
Hasil normal : Jika hasil tes adalah normal, pewarna tetap dalam film air mata pada permukaan mata dan tidak mematuhi mata itu sendiri.

Catatan: rentang nilai normal dapat sedikit berbeda antara laboratorium yang berbeda. Bicara dengan dokter tentang arti hasil spesifik Anda uji.
Apa Hasil Abnormal Mean

* Abnormal produksi air mata (mata kering)
* Kornea abrasi (goresan pada permukaan kornea)
* Asing tubuh, seperti bulu mata atau debu (lihat mata – benda asing di)
* Infeksi
* Cedera atau trauma
* Mata kering parah yang berhubungan dengan arthritis (keratoconjunctivitis sicca)

Risiko : Jika fluorescein menyentuh permukaan kulit, mungkin ada, sedikit singkat, perubahan warna.
Pertimbangan : Tes ini sangat berguna untuk mendeteksi cedera atau kelainan pada permukaan kornea

  • Elektroretinografi
    Electroretinography (ERG) adalah tes mata digunakan untuk mendeteksi fungsi abnormal dari retina (bagian cahaya mendeteksi mata). Secara khusus, dalam tes ini, peka cahaya sel mata, batang dan kerucut, dan sel menghubungkan mereka ganglion di retina diperiksa. Selama pengujian, elektroda ditempatkan pada kornea (di depan mata) untuk mengukur respon listrik untuk menyalakan sel rasa cahaya di retina di belakang mata. Sel-sel ini disebut batang dan kerucut.Prosedur
    Pasien mengasumsikan posisi yang nyaman (berbaring atau duduk). Biasanya mata pasien yang melebar terlebih dahulu dengan standar tetes mata melebar. Tetes anestesi kemudian ditempatkan di mata, menyebabkan mereka menjadi mati rasa. Kelopak mata ini kemudian disangga terbuka dengan spekulum, dan elektroda yang lembut ditempatkan pada setiap mata dengan perangkat yang sangat mirip dengan lensa kontak. Sebuah elektroda tambahan ditempatkan pada kulit untuk menyediakan dasar untuk sinyal-sinyal listrik yang sangat samar yang dihasilkan oleh retina. Tes ini bahkan dapat dilakukan pada anak kooperatif, serta bayi dibius atau terbius. Rangsangan visual meliputi berkedip, yang disebut ERG flash, dan pola kotak-kotak membalikkan, yang dikenal sebagai pola ERG.
  • Ø  Anel Test

Pemeriksaan saluran sistem ekskresi lakrimal Dudukkan penderita dengan kepala setengah menengadah atau tidurkan. Tetesi pantokain beberapa kali Sediakan semprit 2 – 5 cc dengan jarum yang sudah ditumpulkan halus. Isi semprit dengan garam fisiologik. Sediakan dilatator Renggangkan palpebra bawah kearah lateral dan bawah. Suruh penderita melihat keatas. Lebarkan pungtum dengan dilatator, mula – mula masukkan tegak lurus sedalam 2 mm, terhadap margo palpebra, kemudian horisontal arah ke nasal. Masukkan cairan garam fisiologik dengan semprit berjarum tumpul kedalam kanalikuli lakrimal, dengan arah seperti dilatasi tadi. Penderita akan marasakan cairan masuk kerongkongan, belakang hidung bila saluran utuh. Cairan akan keluar dari pungtum superior bila ada penyempitan duktus nasolakrimal atau cairan dalam semprit sama sekali tak dapat di dorong bila ada sumbatan di kanalikuli lakrimal.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 10, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: