RSS

Askep TB Paru

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN TB PARU DI RUANG MENULAR ANAK

RSUD Dr. R. SOEDARSONO

Pangertian

Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada parudisebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis  (Amin, M.,1999)..

 

Patofisiologi

 

Mycobacterium TBC

                                                   Masuk jalan napas

                                                   Tinggal  di  Alveoli

 

        Tanpa infeksi                                Inflamasi                        disebar oleh limfe

 

                                                            Fibrosis                                   Timbul jar. Ikat sifat

Elastik & tebal.

Kalsifikasi

– Batuk                                                                                    Alaveolus  tidak

– Spuntum purulen                               Exudasi                        kembali saat

– Hemoptisis                                                                                 ekspirasi

– BB menurun                                 Nekrosis/perkejuan

Gas tidak dapat

Kavitasi                        berdifusi dgn. Baik.

 

                                                                                                         Sesak

Kuman

 

                                                  Infeksi primer

 

Sembuh  total                          Sembuh dgn. Sarang                  Komplikasi

ghon                            – Menyebar ke seluruh

tubuh scr. Bronkhogen,

limphogen, hematogen

 

Infeksi post primer                      Kuman dormant

Muncul bertahun kemudian

 

 

Diresorpsi kembali/sembuh        Membentuk jar. keju                Sarang meluas

Jika dibatukkan                        sembuh dgn.

membentuk kavitas.                Jar. Fibrotik

 

                        .

 

Kavitas meluas                 Memadat & membungkus diri            Bersih & menyembuh

Membentuk sarang                         tuberkuloma

 

 

 

Faktor Resiko

Ü  Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.

Ü  Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan.

Ü  Bayi dan anak di bawah 5 tahun.

Ü  Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip, terapi steroid & kemoterapi kanker.

 

Gejala Klinis

  1. Demam (subfebris, kadang-kadang 40 – 41 C, seperti demam influensa.
  2. Batuk (kering, produktif, kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah).
  3. Sesak napas, jika infiltrasi sudah setengah bagian paru.
  4. Nyeri dada, jika infiltrasi sudah ke pleura.
  5. Malaise , anoreksia, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

 

Pengkajian  (Doegoes, 1999)

  1. Aktivitas /Istirahat

–         Kelemahan umum dan kelelahan.

–         Napas pendek dgn. Pengerahan tenaga.

–         Sulit tidur dgn. Demam/kerungat malam.

–         Mimpi buruk.

–         Takikardia, takipnea/dispnea.

–         Kelemahan otot, nyeri dan kaku.

  1. Integritas Ego :

–         Perasaan tak berdaya/putus asa.

–         Faktor stress : baru/lama.

–         Perasaan butuh pertolongan

–         Denial.

–         Cemas, iritable.

  1. Makanan/Cairan :

–         Kehilangan napsu makan.

–         Ketidaksanggupan mencerna.

–         Kehilangan  BB.

–         Turgor kulit buruk, kering, kelemahan otot, lemak subkutan tipis.

  1. Nyaman/nyeri :

–         Nyeri dada saat batuk.

–         Memegang area yang sakit.

–         Perilaku distraksi.

  1. Pernapasan :

–         Batuk (produktif/non produktif)

–         Napas pendek.

–         Riwayat tuberkulosis

–         Peningkatan jumlah pernapasan.

–         Gerakan pernapasan asimetri.

–         Perkusi :  Dullness, penurunan fremitus pleura terisi cairan).

–         Suara napas : Ronkhi

–         Spuntum : hijau/purulen, kekuningan, pink.

  1. Kemanan/Keselamatan :

–         Adanya kondisi imunosupresi : kanker, AIDS, HIV positip.

–         Demam pada kondisi akut.

  1. Interaksi Sosial :

–         Perasaan terisolasi/ditolak.

 

Diagnosa Keperawatan

  1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
  2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
  3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
  4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, penurunan geraan silia, stasis dari sekresi.
  5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat.

 

Intervensi

Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.

Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.

Kriteria hasil :

Ü  Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.

Ü  Mendemontrasikan batuk efektif.

Ü  Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.

 

Rencana Tindakan :

  1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

  1. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

  1. Lakukan pernapasan diafragma.

R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

  1. Tahan napas selama 3 – 5  detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.

R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

  1. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

  1. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.

R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

  1. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

9.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

Pemberian expectoran.

Pemberian antibiotika.

Konsul photo toraks.

R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Diagnosa Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.

Tujuan : Pertukaran gas efektif.

Kriteria hasil :

Ü  Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.

Ü  Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.

Ü  Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

 

Rencana tindakan :

  1. Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

  1. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.

  1. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

  1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

Pemberian antibiotika.

Pemeriksaan sputum dan kultur sputum.

Konsul photo toraks.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

 

Diagnosa Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia

Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat

Kriteria hasil :

Ü Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori

Ü Menu makanan yang disajikan habis

Ü Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema

 

Rencana tindakan

  1. Diskusikan penyebab anoreksia, dispnea dan mual.

R/ Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik.

  1. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.

R/ Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan.

  1. Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan).

R/ Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan menurunkan kapasitas.

  1. Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah makan.

R/  cairan dapat lebih pada lambung, menurunkan napsu makan dan masukan.

  1. Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya.

R/ Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori adekuat.

  1. Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut
    1. Vitamin B12 (telur, daging ayam, kerang).
    2. Asam folat (sayur berdaun hijau, kacang-kacangan, daging).
    3. Thiamine (kacang-kacang, buncis, oranges).
    4. Zat besi (jeroan, buah yang dikeringkan, sayuran hijau, kacang segar).

R/ Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan metabolisme dan penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar.

  1. Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup.

R/ Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein, nutrisi parenteral,total, atau makanan per sonde.

 

Daftar Pustaka

 

 

Amin, M., (1999). Ilmu Penyakit Paru.  Surabaya :Airlangga Univerciti Press

 

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta : EGC

 

                          (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC

 

Doengoes, (1999). Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

 

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

 

FORMAT  ASUHAN  KEPERAWATAN

 

Nama    :

N I M    :

Ruangan           : Paru Laki-Laki                                     No. Reg.           : 10079691

Pengkajian        : Tanggal 4-9 – 2001                               Jam                  : 11.00 WIB

——————————————————————————————————————————

  1. IDENTITAS

Nama                     : Tn. Diran (D)                Tgl. MRS : 30 – 9 – 2001

Umur                     : 73 tahun                      Diagnosa : TB paru + Hemaptoe

Jenis kelamin         : Laki-Laki

Suku/bangsa          : Jawa/Indonesia

Agama                   : Islam

Pekerjaan              : Swasta/pedagang makanan

Pendidikan            : SLTA

Alamat                   : Girilaya 11/17 Surabaya

Alasan Dirawat    :  Batuk darah selama 1 jam kurang lebih 5 sendok makan, dan GCS  4 – 4 – 4

Keluhan Utama       : Klien mengatakan sesak napas

Upaya yang telah dilakukan            : Telah diberikan bantuan oksigen 2l/menit .

Terapi/operasi yang pernah dilakukan         : minum obat OAT teratur

 

  1. RIWAYAT KEPERAWATAN

Riwayat Penyakit Sebelumnya

Klien mempunyai TB paru sejak 5 tahun yang lalu, minum obat OAT secara teratur dan mempunyai penyakit kencing batu sejak tahun 1996.

Riwayat Penyakit Sekarang

Batuk darah sejak 1 hari sebelum MRS, tanggal 30 – 8 – 2001 batuk darah kira-kira 5 sendok makan, sebelumnya batuk berdahak putih. Lama-lama penderita tidak sadar lalu di bawa ke rumah sakit.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Istrisekarang adalag istri ke dua, tidak mempunyai penyakit yang berbahaya, menular atau menurun. Kedua anaknya juga tidak mempnyai penyakit yang berat, hanya batuk pilek dibelikan obat sembuh.

 

 

Genogram

 

 

 

 

 

Keadaan Kesehatan Lingkungan

Klien bertempat tinggal di Surabaya, yang penduduknya padat, dan udara panas, pada daerah tempat tinggalnya antar rumah sangat rapat, udara bersih.

Alat Bantu yang Dipakai

Klien tidak memakai alat bantu, baik gigi, kaca mata maupun pendengaran.

  1. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

Klien dalam keadaan lemah, kelin tidur dalamposisi head down /trendenlenbeg, kaki terpasang infus RL tetesan 20 tetes/menit, dan terpasang oksigen 2 l /menit.

Tanda-Tanda Vital

Suhu 36,8 celcius, pada axilla, nadi 92 x/menit, tidak teratur, Tensi : 160/90 mmHg. Lengan kanan, RR = 30 x/menit, dengan memakai pernapasan perut dan bantuan otot pernapasan sternokleidomastoid.

Body System

Pernapasan (B1)

Hidung terpasang kanula oksigen 2l/menit

Trachea tidak ada kelainan

Terdapat retraksi dada, batuk darah kira-kira  200 cc, napas dangkal.

Suara tambahan terdengar bunyi ronchi.

Bentuk dada simestris.

CardioVaskuler (B2)

Dada terasa neyri bila untuk membatukan dahak., palpitasi tidak ada, clubbing fingger tidak ada.

Suara jantung normal.

Edema  : tidak ada.

 

Persyarafan (B3)

Kesadaran Compomentis, GCS : 4 – 5 – 6

Kepala dan wajah : tak da kelainan.

Mata : sklera putih, Conjungtiva :merah muda, pupil : isokor.

Leher : tak ada kelaianan.

Reflek batuk ada, tapi tidak keras.

Persepsi sensoris :

Pendengaran         : normal /dbn.

Penciuman : normal /dbn.

Pengecapan          : normal /dbn.

Penglihatan            : normal /dbn.

Perabaan   : normal /dbn.

Perkemihan

Produksi urine : ± 1500 ml. Tak tentu.

Warna : kuning kecoklatan,             Bau : Khas.

Tidak ada masalah

Pencernaan – Eliminasi Alvi

Mulut dan tenggorokan : mulut keadaan kotor ada bekas cairan darah.

Abdomen : tak ada kelainan.

Rektum tak ada kelainan, BAB 1 x/hari,

Diet TKTP, Bubur, tiap makan dihabiskan.

Tulang – Otot – Integumen

Kemampuan pergerakan bebas, perese tidak ada.

Extrimitas atas dan bawah tidak ada kelainan

Tulang belakang tidak ada kelainan.

Kulit : kuning kecoklatan

Akral dingin basah.

Turgor cukup.

Sistem Endokrine

Tidak ada kelainan

Sosial / Interaksi

Hubungan dnegan klien : kenal

Dukungan keluarga  : aktif

Dukungan kelompok/teman/masyarakat : kurang.

Reaksi saat interaksi : kooperatif

Spiritual

Konsep tentang penguasa kehidupan Alloh

Sumber kekuatan/harapan di saat sakit : Alloh.

Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : sholat

 

Sarana/peralatan/orang yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini lewat ibadah.

Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit saat ini : Ya.

Keyakinan/kepercayaa bahwa penyakit dapat disembuhkan : ya

Persepsi terhadap penyebab penyakit : cobaan/peringatan.

Pemeriksaan Penunjang

Photo thoraks terakhir :

–         Infiltrat pada kedua apex paru ka-ki

–         Fenting diafragma ka-ki

–         Kalsifikasi pada parenkhim paru ka-ki

–         Laboratorium tanggal 31 – 8 – 2001

Hb. 14,1 (13,5 – 18,9)

Leukosit : 12.250 (4.000 – 11.000/cmm)

Kreatinin Serum:  2,1 (0,7 – 1,3 mg/dl)

BUN = 36 (10 – 20 mg/dl)

–         Lab. Tanggal 3 – 9 – 2001

TTH = negatip,

Gram ; positip, negatif  (saliva).

Terapi

–         Injeksi Transamin  3 x 1 amp.

–         Ampicillin  4 x 1 gr.

–         Codein 3 x 1

Tanda Tangan Mahasiswa

Arif M

NIM.: 010030170 B

 

ANALISA DATA

 

NO

DATA

KEMUNGKINAN PENYEBAB

MASALAH

S: Klien mengatakan  kemarin sudah tidak batuk darah lagi dan sesak, sekarang kalau batuk darah lagi dan sesak.

O : Klien tampak diam,Nadi92 x/menit

: Keluar keringat dingin basah

: Klien tampak menanyakan masalah klien ke dokter

S. Klien mengatakan segala keperluannya dibantu karena oleh dokter tidak boleh bergerak.

 

O : Klien tampak segala keperluannya dibantu istrinya seperti makan, minum BAB,BAK dll.

: Skala AKS = 0

 

 

 

S : Klien mengelun nyeri dada bila untuk batuk

O: Klien tamapak kalau batuk tidak terlalu keras, tampak memegangi dadanya.

: Klien tampak dian menyeringai.

: Nadi 92 x/menit.

: Skala nyeri = 2

 

S: Klien mengatakan napasnya sesak lagi.

 

O : Klien tampak napasnya cepat memakai pernapasan perut (RR = 30 x/menit).

: Tampak ada bantuan otot pernapasan sternokleidomastoid.

: Terpasang oksiegen 2 l/menit

: Posisi klien tredenlenbeg (head down).

: Batuk darah ± 200cc.

 

 

 

 

S: Klien mengatakan baru saja batuk darah ± 1/3 gelas besar.

 

O : Klien kedaaan posisi tredelenbeg (head down)

: Di mulut masih ada bekas darah.

: Klien tampak batuk sambil mengeluarkan darah.

: Sampai jam 10.00 WIB darah yang dikeluarakan ± 200 cc

=  Kurang akurat informasi yang diterima

= Pendidikan klien

= Stress

Fisiologi         Emosional         Kognitip

– nadi cepat     – diam            – sering

– Diaphoresis   – takut         menanyakan

 

 

Ansietas

-Klien dengan dx. TB paru dengan hemamptoe.

– Dapat advis dokter tidak boleh bergerak

 

 

Segala kperluannya dibantu oleh istrinya seperti makan, minum BAB,BAK dll.

 

 

Sindrom perawatan diri

Di alveoli terjadi inflamasi, kalsifikasi, eksudasi, nekrosis, dan akhirnya terjadi kavitasi

Batuk dengan tekanan keras pembuluh darah arteri pulmonalis pecah

Batuk darah               Merangsang ujung

saraf terbuka

 

Nyeri

 

 

Inflamasi

 

 

Fibrosis                 disebar oleh limfe

Timbul jar. Ikat sifat          Elalastik & tebal.

Alveolus  tidak

kembali saat   ekspirasi

Gas tidak dapat                         berdifusi dgn. Baik.

 

Sesak

 

 

 

Gangguan pertukaran gas

 

 

 

 

 

Adanya inflamasi

 

 

Fibrosis

 

 

Kalsifikasi

– Batuk

 

Eksudasi                     – Spuntum

Pururlen

Nekrosisi/perkejuan

 

 

Kavitasi     —————-  Hemoptisis

 

 

 

Bersihan jalan napas tak efektif

Ansietas

Sindrom perawatan diri

Nyeri

 

Gangguan pertukaran gas

Bersihan jalan napas tak efektif

 

 

RENCANA TINDAKAN PERAWATAN

 

Tanggal  5 September 2001

Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.

Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif (1 hari).

Kriteria hasil :

Ü  Klien tidak ada suara napas tambahan.

Ü  Klien mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara bila diindikasikan.

Ü  Klien minum banyak ( 1500 – 2000 cc)untuk menurnkan kekentalan sekret.

 

Rencana Tindakan :

 

  1.  Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk agar tidak keras-keras..

R/ Batuk yang keras menyebabkan perdarahan pembuluh adrah pada pulmonal.

  1. Lakukan pernapasan diafragma.

R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

  1. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

  1. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.

R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

  1. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

  1. Jelaskan pada klien dan keluarga mematuhi anjuran dari dokter dan perawat : seperti menghindari makanan yang menyebabkan batuk, serta bau-bauan.

R/ Dengan informasi yang jelas klien diharapkan dapat bekerja sama dalam pemberian terapi.

7.   Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

Pemberian obat transamin 3 x 1 amp., codein 3 x 1 tab, posisi tredelenbeg (head down)

R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas perdarahan klien dari batuk darahnya

 

Diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.

Tujuan : Pertukaran gas efektif (1 hari).

Kriteria hasil :

Ü

Ü  Klien mengetahui penyebab dari batuk daraha

Ü  Klien tidak sesak napas lagi ( R = normal)

Ü  Tidak memakai oksigen tambahan.

 

Rencana tindakan :

  1. Berikan posisi yang  nyaman, sesuai yang diindikasikan oleh dokter.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

  1. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.

  1. Berikan Oksigen sesuai advis dokter 2 l/menit

R/ dapat mengurangi sesak napas / menambahi kekurangan oksigennya.

  1. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan dan jelaskan tentang etiologi /faktor pencetus adanya sesak..

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

  1.  Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

Pemberian antibiotika.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

 

 

TINDAKAN KEPERAWATAN

 

 

Tanggal : 6 September 2001

Diagnosa : Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang kental/ sekresi darah.

 

  1. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk agar tidak keras-keras.
  2. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
  3. Menganjurkan  untuk minum agar menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari
  4. Mendorong keluarga dalam memberikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
  5. Menjelaskan pada klien dan keluarga mematuhi anjuran dari dokter dan perawat : seperti menghindari makanan yang menyebabkan batuk, serta bau-bauan, menghindari banyak bergerak/bicara, tidak boleh batuk dengan keras-keras.
  6. Memberikan advis dokter :

Pemberian obat transamin 3 x 1 amp., codein 3 x 1 tab, posisi tredelenbeg (head down)

R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas perdarahan klien dari batuk darahnya

 

 

Diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.

  1. Memberikan posisi yang  nyaman, sesuai yang diindikasikan oleh dokter.
  2. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
  3. Memberikan Oksigen sesuai advis dokter 2 l/menit
  4. Menjelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan dan jelaskan tentang etiologi /faktor pencetus adanya sesak..
  5. Menganjurkanklien untuk berperilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

 

Diagnosa keperawatan

(Berdasarakan Prioritas)

 

  1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang kental/sekresi darah.
  2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dnegan kerusakan membran alveolar – kapiler.
  3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah pulmonal bila batuk darah.
  4. Ansietas berhubungan dnegan informasi yang kurang/tidak akurat tentang terjadinya batuk darah.
    1. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dnegan tindakan perawatan dari batuk darah.

 

 

 

CATATAN   PERKEMBANGAN

 

Tanggal 6 September 2001

Diagnosa  Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang kental/sekresi darah.

S : Klien mengatakan sudah sesak lagi.

 

O ; Klien tampak memakai pernapasan perut (R ; 20 x/menit).

: Possi klien masih tredelenbeg.

: Tidak ada bantuan otot-otot pernapasan ketika bernapas.

: Terapi Oksigen sudah dilepas.

 

A : Masalah teratasi

P : Dihentikan, kecuali No. 3, 4, 7.

 

 

Diagnosa  Gangguan pertukaran gas berhubungan dnegan kerusakan membran alveolar – kapiler.

S : Klien mengatakan batuk darahnya sudah tidak lagi.

 

O: Klien keadaan masih agak lemah.

: Posisi tredelenbeg.

: Klien masih tampak batuk, tapi tidak keras dan tak ada darahnya.

: Klien tampak bisa tersenyum.

 

A : Masalah belum teratasi

P : Dilanjutkan No. 1, 2, 5, 6.

 

As

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 10, 2012 in Uncategorized

 

Askep Emboli Paru

ASUHAN KEPERAWATAN EMBOLISME PARU

1.      PENGERTIAN EMBOLI PARU

Emboli Paru (Pulmonary Embolism)adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah. Biasanya arteri yang tidak tersumbat dapat memberikan darah dalam jumlah yang memadai ke jaringan paru-paru yang terkena sehingga kematian jaringan bisa dihindari. Tetapi bila yang tersumbat adalah pembuluh yang sangat besar atau orang tersebut memiliki kelainan paru-paru sebelumnya, maka jumlah darah mungkin tidak mencukupi untuk mencegah kematian paru-paru. Sekitar 10 persen penderita emboli paru mengalami kematian jaringan paru-paru, yang disebut infark paru. Jika tubuh bisa memecah gumpalan tersebut, kerusakan dapat diminimalkan. Gumpalan yang besar membutuhkan waktu lebih lama untuk hancur sehingga lebih besar kerusakan yang ditimbulkan. Gumpalan yang besar bisa menyebabkan kematian mendadak.

2.      ETIOLOGI

Kebanyakan kasus disebabkan oleh bekuan darah dari vena, terutama vena di tungkai atau panggul. Penyebab yang lebih jarang adalah gelembung udara, lemak, cairan ketuban atau gumpalan parasit maupun sel tumor. Penyebab yang paling sering adalah bekuan darah dari vena tungkai, yang disebut trombosis vena dalam. Gumpalan darah cenderung terbentuk jika darah mengalir lambat atau tidak mengalir sama sekali, yang dapat terjadi di vena kaki jika seseorang berada dalam satu posisi tertentu dalam waktu yang cukup lama. Jika orang tersebut bergerak kembali, gumpalan tersebut dapat hancur, tetapi ada juga gumpalan darah yang menyebabkan penyakit berat bahkan kematian.

Penyebab terjadinya gumpalan di dalam vena mungkin tidak dapat diketahui, tetapi faktor predisposisinya (faktor pendukungnya) sangat jelas, yaitu:

  • Pembedahan
  • Tirah baring atau tidak melakukan aktivitas dalam waktu lama (seperti duduk selama perjalanan dengan mobil, pesawat terbang maupun kereta api)
    • Stroke
    • Serangan jantung
    • Obesitas (kegemukan)
    • Patah tulang tungkai tungkai atau tulang pangggul
  • Meningkatnya kecenderungan darah untuk menggumpal (pada kanker tertentu, pemakaian pil kontrasepsi, kekurangan faktor penghambat pembekuan darah bawaan)
    • Persalinan
    • Trauma berat
    • Luka bakar

 

Faktor Resiko terjadinya PE
a. DVT ada pada 50% pasien
b. Pembedahan sebelumnya
c. Trauma sebelumnya
d. Imobilisasi untuk berbagai alas an
e. Keganasan
f. Pasien mengkonsumsi kontrasepsi oral
g. Pasien mendapatkan terapi hormone
h. Kehamilan lama
i. Obesitas
j. Pasien mendapatkan Selective Estregen Receptor Modulator therapy (SERM)
k. Syndrome hyperviskositas
l. Nipas
m. Nepritik sindrom
n. Defisiensi antitrombin III
o. Defisiensi protein C dan S
p. Antikoagulan lupus

3. PATOFISIOLOGI

Ketika trombus menghambat sebagian sebagian atau seluruh aeteri pulmonal, ruang rugi alveolar membesara karena area, meski terus mendapat ventilasi, menerima aliran darah sedikit atau sama sekali tidak. Selain itu, sejumlah substansi  yang dilepas  dari bekuan dan menyebabkan pembulu darah dan bronkeolus berkonstriksi. Reaksi ini dibarengi dengan ketidak seimbangan ventilasi-perfusi menyebabkan sebagian darah terpirau (tidak ada pertukaran gas yang terjadi ) yang mengakibatkan penurunan kadar O2 dan peningkatan CO2.

Konsekuensi hemodinamik adalah peningkatan tahanan vaskuler paru akibat penurunan jaringan-jaringan vaskuler pulmonal, mengakibatkan peningkatan tekanan arteri pulmonal dan pada akirnya meningkatkan kerja ventrikel kanan untuk mempertahankan aliran darah pulmonal. Bila kebutuhan kerja ventrikel kanan melebihi kapasitasnya, maka akan terjadi gagal ventrikel kanan, yang mengarah pada penurunan tekanan darah sistemik dan terjadinya syok.

4.      TANDA dan GEJALA

§  Tanda umum adalah:

a. dyspnoea – tiba-tiba dan ada pada 90% kasus
b. nyeri dada pleuritik
c. haemoptisis
d. pingsan
e. tachikardia > 100/menit
f. tachipnoe > 20/menit
g. demam

§  Tanda Klinis

ü  Gejala DVT dengan tanda bengkak pada kaki dan nyeri pada perabaan vena

ü  Denyut jantung > 100 per menit

ü  Bedrest > 3 hari atau pembedahan dalam 4 minggu yang lalu

ü  Sebelumya menderita DVT atau PE

ü  Haemoptisis

ü  PE ditemukan pada pemeriksaan poto thorak dan EKG

Gejala

a. dyspnea berat
b. nyeri dada
c. peningkatan tekanan vena
d. ada bukti gagal jantung kanan
e. hypotensi
f. shock

5.      TEST DIAGNOSTIK

1)      Lung scan (ventilation/perfusion scan) dapat menunjukkan pola perfusi abnormal pada area ventilasi atau tidak adanya ventilasi dan perfusi.

2)      Pulmonary angiography terdapatnya defek atau arteri cutoff dengan tidak adanya darah pada distal aliran darah.

3)      Chest X-Ray sering kali normal (terutama pada keadaan subkutan) tetapi dapat menunjukkan bayangan bekuan darah, kerusakan pembuluh darah, elevasi diagragma pada area yang terkena, efusi pleura, infiltrasi/konsolidasi.

4)      ABGs dapat menunjukkan penurunan PaO2, PaCO2 (hipoksemia/hipokapnea) dan elevasi pH (alkalosis respirator) terutama jika obstruksi paru berat.

5)      Darah lengkap: dapat menunjukkan peningkatan  Ht (Hemokonsentrasi), peningkatan sel darah merah (polistemia).

6)      ECG mungkin normal atau menunjukkan perubahan yang mengindikasikan gangguan ventrikel kanan, misalnya perubahan pada gelombang T/ST segmen, aksis deviasi/Right Bundle Branch Block (RBBB), takikardia, dan disritmia sering kali timbul.

6.      PENCEGAHAN

o   Berikan latihan aktif/pasif pada kaki untuk mencegah vena statis pada klien bedrest atau klien postoperasi dengan melakukan early ambulation

o   Elastik stocking untuk menekan vena superficial dan meningkatkan aliran darah

o   Elevasi kaki di atas jantung

o   Cegah adanya tekanan di bawah daerah popliteal (seperti oleh bantal)

o   Profilaksis heparin

7.      PENATALAKSANAAN

Pengobatan emboli paru dimulai dengan pemberian oksigen dan obat pereda nyeri.
Oksigen diberikan untuk mempertahankan konsentrasi oksigen yang normal.

Terapi antikoagulan diberikan untuk mencegah pembentukan bekuan lebih lanjut dan memungkinkan tubuh untuk secara lebih cepat menyerap kembali bekuan yang sudah ada.
Terapi antikoagulan terdiri dari heparin (diberikan melalui infus), kemudian dilanjutkan dengan pemberian warfarin per-oral (melalui mulut).

Heparin dan warfarin diberikan bersama selama 5-7 hari, sampai pemeriksaan darah menunjukkan adanya perbaikan.

Lamanya pemberian antikoagulan (anti pembekuan darah) tergantung dari keadaan penderita.

Jika emboli paru disebabkan oleh faktor predisposisi sementara, (misalnya pembedahan), pengobatan diteruskan selama 2-3 bulan.
Jika penyebabnya adalah masalah jangka panjang, pengobatan diteruskan selama 3-6 bulan, tapi kadang diteruskan sampai batas yang tidak tentu.

Pada saat menjalani terapi warfarin, darah harus diperiksa secara rutin untuk mengetahui apakah perlu dilakukan penyesuaian dosis warfarin atau tidak.

Penderita dengan resiko meninggal karena emboli paru, bisa memperoleh manfaat dari 2 jenis terapi lainnya, yaitu terapi trombolitik dan pembedahan.
Terapi trombolitik (obat yang memecah gumpalan) bisa berupa streptokinase, urokinase atau aktivator plasminogen jaringan.
Tetapi obat-obatan ini tidak dapat diberikan kepada penderita yang:
– telah menjalani pembedahan 10 hari sebelumnya
– wanita hamil
– menderita stroke
– mempunyai bakat untuk mengalami perdarahan yang hebat.

Pada emboli paru yang berat atau pada penderita yang memiliki resiko tinggi mengalami kekambuhan, mungkin perlu dilakukan pembedahan, yaitu biasanya dilakukan embolektomi paru (pemindahan embolus dari arteri pulmonalis).

Jika tidak bisa diberikan terapi antikoagulan, maka dipasang penyaring pada vena kava inferior. Alat ini dipasang pada vena sentral utama di perut, yang dirancang untuk menghalangi bekuan yang besar agar tidak dapat masuk ke dalam pembuluh darah paru.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
Pengkajian dengan pendekatan ABCDE.

Airway

a. kaji dan pertahankan jalan napas
b. lakukan head tilt, chin lift jika perlu
c. gunakan alat batu untuk jalan napas jika perlu
d. pertimbangkan untuk merujuk ke ahli anestesi untuk dilakukan intubasi jika tidak dapat mempertahankan jalan napas

Breathing

a. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, untuk mempertahankan saturasi >92%.
b. Berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath mask.
c. Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan menggunakan bag-valve-mask ventilation
d. Lakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
e. Kaji jumlah pernapasan
f. Lakukan pemeriksan system pernapasan
g. Dengarkan adanya bunyi pleura
h. Lakukan pemeriksaan foto thorak – mungkin normal, tapi lihat untuk mendapatkan:
a. Bukti adanya wedge shaped shadow (infarct)
b. Atelektaksis linier
c. Effuse pleura
d. Hemidiaphragm meningkat
e. Jika tanda klinis menunjukan adanya PE, lakukan ventilation perfusionscan (VQ) atau CT Pulmonary Angiogram (CTPA) sesuai kebijakan setempat

Circulation

a. Kaji heart rate dan ritme, kemungkinan terdengan suara gallop
b. Kaji peningkatan JVP
c. Catat tekanan darah
d. Pemeriksaan EKG mungkin menunjukan:
a. Sinus tachikardi
b. Adanya S1 Q3 T3
c. right bundle branch block (RBBB)
d. right axis deviation (RAD)
e. P pulmonale
e. Lakukan IV akses
f. Lakukan pemeriksaan darah lengkap
g. Jika ada kemungkina PE berikan heparin
h. Jika pasien mengalami thrombolisis, alteplase direkomendasikan sebagai obat pilihan. Berikan 50 mg IV dengan bolus. Jika pasien tidak berespon terhadap trombolisis, segera dirujuk ke speialis untuk dilakukan thromboembolectomy.

Disability
a. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
b. penurunan kesadaran menunjukan tanda awal pasien masuk kondisi ekstrim dan membutuhkan pertolongan medis segera dan membutuhkan perawatan di ICU.

Exposure

a. selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan PE
b. jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lainnya.
c. Jangan lupa pemeriksaan untuk tanda DVT

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan :

  • Obstruksi trakeobronkial oleh bekuan darah, secret kental atau pendarahan aktif
  • Penurunan ekspansi paru
  • Proses peradangan

 

Ditandai dengan:

ü  Perubahan dalam kedalaman dan atau jumlah respirasi

ü  Dispnea/penggunaan otot aksesori pernapasan

ü  Perubahan pergerakan dada

ü  Suara nafas abnormal, missal crackles, wheezing

ü  Batuk dengan atau tanpa produksi sputum

Intervensi

1.      Kaji RR, kedalaman dan ekspansi dada. Catat kerja nafas termasuk penggunaan otot aksesori pernafasan

2.      Auskultasi suara nafas dan catat adanya suara napas tambahan

3.      Elevasi kepala pada tempat tidur, bantu untuk mengubah posisi

4.      Observasi pola batuk dan karakter dari sekresi

5.      Berikan/bantu klien dengan latihan nafas dalam dan batuk efektif. Lakukan suction oral jika memungkinkan.

Kolaborasi

1.      Berikan oksigen tambahan

2.      Berikan humidifikasi, missal nebulizer

3.      Bantu dengan melakukan fisioterapi dada

 

2.      Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan:

  • Perubahan aliran darah ke alveoli atau bagian besar paru
  • Perubahan membrane alveolar-kapiler,(atelektasis, kolaps jalan nafas/alveolar,  edema pulmonal/efusi, penumpukan sekret/pendarahan aktif).

Ditandai dengan:

  • Dispnea, kelemahan, apprehension, somnolen, sianosis
  • Perubahan pada nilai ABGs/pulse oximetry, missal hipoksemia dan hiperkapnea.

Intervensi:

1.      Catat RR, kedalaman, penggunaan otot nafas tambahan, dan pernapasan mulut,

2.      Observasi warna kulit dan sianosis pada jaringan hangat, seperti cuping telinga, bibir, lidah, dan membrane bukal (buccalis)

3.      Bantu klien untuk memelihara kepatenan jalan nafas, missal dengan batuk, suctioning

4.      Elevasi kepala sesuai dengan toleransi klien

5.      Monitor tanda vital

6.      Kaji tingkat kesadaran/perubahan mental

7.      Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas, missal keluhan kelemahan selama melakukan aktivitas. Berikan periode istirahat dan batasi aktivitas.

Kolaborasi:

1.      Monitor ABGs/pulse oximetry

2.      Berikan oksigen sesuai dengan metode tepat

 

3.      Perubahan perfusi jaringan kardiopulmonal  (actual) dan perifer (risiko tinggi) berhubungan dengan:

 

  • Gangguan pada aliran darah
  • Masalah pertukaran pada tingakat alveolar atau tingkat jaringan

Ditandai dengan:

ü  Kardiopulmonal: ventilasi/perfusi mismatch

ü  Dispnea

ü  Sianosis sentral

ü  Perifer (tidak diaplikasikan, data ini aka nada pada diagnose actual)

Intervensi:

1.      Auskultasi HR dan ritme, serta catat suara jantung tambahan

2.      Observasi perubahan status mental

3.      Observasi warna dan temperature kulit/membrane mukosa

4.      Ukur urine output

5.      Evaluasi ekstermitas dari adanya/tidak adanya/kualitas dari nadi

6.      Elevasi kaki ketika di tempat tidur/kursi

Kolaborasi

1.      Berikan cairan (IV/PO) sesuai dengan indikasi

2.      Monitor hasil diagnostic/laboratorium, missal ECG, elektrolit, BUN/Cr, ABGs, PTT, dan PT

3.      Berikan terapi sesuai dengan indikasi:

ü  Heparin

ü  Warfarin sodium (Coumadin)

ü  Agen trombolik seperti Streptokinasi, Urokinasi, Alteplase.

 

4.      Ketakutan/kecemasan berhubungan dengan:

  • Dispnea berat/ketidakmampuan untuk bernafas normal
  • Persepsi akan mati
  • Perubahan status kesehatan
  • Respons fisiologis terhadap hipoksemia/asidosis

Ditandai dengan:

ü  Kelemahan, iritabilitas

ü  Perilaku menyerang atau menarik diri

ü  Stimulasi simpatis (eksitasi kardiovaskuler, dilatasi pupil, berkeringat, muntah, diare)

ü  Menangis

Intervensi:

1. Catat tingkat ansietas/ketakutan. Informasikan kepada kilen atau orang terdekat bahwa perasaan tersebut normal dan berikan waktu pada kilen untuk mengutarakan perasaannya.

2. Jelaskan proses penyakit dan prosedur sesuai dengan kemampuan klien untuk dapat mengerti dan menangani informasi

3. Temani klien atau buat situasi yang memungkinkan klien ditemani dengan orang terdekat selama fase akut

4. Berikan tindakan yang memberikan kenyamanan (back rub, perubahan posisi)

Bantu klien untuk mengidentifikasikan perilaku meminta tolong seperti permintaan posisi yang nyaman, teknik relaksasi

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2012 in Uncategorized

 

Sistem Penglihatan

SISTEM PENGLIHATAN

1. Anatomi & Fisiologi & Patofisiologi Penglihatan

a. Anatomi Mata

• Struktur mata tambahan

Mata dilindungi dari kotoran dan benda asing oleh alis, bulu mata dan kelopak mata. Konjungtiva adalah suatu membran tipis yang melapisi kelopak mata ( konjungtiva palpebra), kecuali darah pupil. Konjungtiva palpebra melipat kedalam dan menyatu dengan konjungtiva bulbar membentuk kantung yang disebut sakus konjungtiva. Konjungtiva melindungi mata dan mencegah mata dari kekeringan. Kelenjar lakrimalis teletak pada sebelah atas dan lateral dari bola mata. Kelenjar lakrimalis mengsekresi cairan lakrimalis. Air mata berguna untuk membasahi dan melembabkan kornea, kelebihan sekresi akan dialirkan ke kantung lakrimalis yang terletak pada sisi hidung dekat mata dan melalui duktus nasolakrimalis untuk kehidung.

• Bola Mata

Bola mata disusun oleh tiga lapisan, yaitu : sklera, koroid, dan retina. Lapisan terluar yang kencang atau sklera tampak putih gelap dan ada yang bening yaitu pada bagian iris dan pupil yang membantuk kornea. Lapisan tengah yaitu koroid mengandung pembuluh – pembuluh darah yang arteriolnya masuk kedalam badan siliar yang menempel pada ligamen suspensori dan iris. Lapisan terdalam adalah retina yang tidak mempunyai bagian anterior mengandung reseptor cahaya ( fotoreseptor ) yang terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Reseptor cahaya melakukan synap dengan saraf – saraf bipolar diretina dan kemudian dengan saraf – saraf ganglion diteruskan keserabut saraf optikus. Sel kerucut lebih sedikit dibanding sel batang. Sel kerucut dapat ditemukan di dekat pusat retina dan diperkirakan menjadi reseptor terhadap cahaya terang dan penglihatan warna. Sel – sel batang mengandung rhodopsin yaitu suatu protein fotosintetif yang cepat berkurang dalam cahaya terang. Regenerasi rhodopsin bersifat lambat tergantung pada tersedianya vitamin A, mata memerlukan waktu untuk beradaptasi dari terang ke gelap. Defisiensi vitamin A mempengaruhi kemampuan melihat dimalam hari.

• Ruangan pada mata
Bagian dalam bola mata terdiri dari 2 rongga ; anterior dan posterior. Rongga anterior teletak didepan lensa, selanjutnya dibagi lagi kedalam dua ruang ; ruang anterior ( antara kornea dan iris ) dan ruang posterior ( antara iris dan lensa ). Rongga anterior berisi cairan bening yang dinamakan humor aqueous yang diproduksi dalam badan ciliary, mengalir kedalam ruang posterior melewati pupil masuk keruang anterior dan dikeluarkan melalui saluran schelmm yang menghubungkan iris dan kornea ( sudut ruang anterior ).

• Iris dan lensa
Iris adalah membran membentuk cairan ( bundar ) mengandung dilator involunter dan otot – otot spingter yang mengatur ukuran pupil. Pupil adalah ruangan ditengah – tengah iris, ukuran pupil bervariasi dalam merespon intensitas cahaya dan memfokuskan objek (akomodasi ) untuk memperjelas penglihatan, pupil mengecil jika cahaya terang atau untuk penglihatan dekat.
Lensa mata merupakan suatu kristal, berbentuk bikonfek ( cembung ) bening, terletak dibelakang iris, terbagi kedalam ruang anterior dan posterior. Lensatersusun dari sel – sel epitel yang dibungkus oleh membrab elastis, ketebalannya dapat berubah – ubah menjadi lensa cembung bila refraksi lebih besar.

• Otot – otot mata
Terdiri dari dua tipe, ekstrinsik dan intrinsik. Otot – otot intrinsi bersifat volunter (dibawah sadar), diluar bola mata yang mengontrol pergerakan diluar mata. Otot – otot intrinsik bersifat involunter ( tidak disadari ) berada dalam badan ciliary yang mengontrol ketebalan dan ketipisan lensa, iris dan ukuran pupil.

• Sudut filtrasi
Sudut filtrasi ini terdapat didalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan akhir dari membran descemet dan membran bowman lalu ke posterior 0,75 mm, kemudian kedalam mengelilingi kanal schelmm dan trabekula sampai ke COA. Akhir dari membran descemet disebut garis schwalbe. Limbus terdiri dari 2 lapisan epitel dan stroma. Epitelnya dua kali setebal epitel kornea. Didalam stromanya terdapat serat – serat saraf dan cabang akhir dari A. siliaris anterior. Bagian terpenting dari sudut foltrasi adalah trabekula, yang terdiri dari :

1. Trabekula korneoskeral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea dan menuju kebelakang, mengelilingi kanal schelmm untuk berinsersi pada sklera.

2. Trabekula uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea, menuju ke skleralspur ( insersi dari m. siliarir ) dan sebagian ke m. siliaris meridional.

3. Serabut berasal dari akhir membran descemet ( garis schwalbe ), menuju kejaringan pengikat m. siliaris radialis dan sirkularis.

4. Ligamentum pektinatum rudimenter, berasaal dari dataran depan iris menuju ke depan trabekula. Trabekula terdiri dari jaringan kolagen, jaringan homogen, elastis, dan seluruhnya diliputi endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus pandang, sehingga bila ada darah dalam canal schelmm, dapat terlihat dari luar.

b. Fisiologi Penglihatan

• Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi.

• Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Penglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dibantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.

• Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.

• Tekanan dalam bola mata (intra occular pressure/IOP)
Tekanan dalam bola mata dipertahankan oleh keseimbangan antara produksi dan pengaliran dari humor aqueous. Pengaliran dapat dihambat oleh bendungan pada jaringan trabekula (yang menyaring humor aquoeus ketika masuk kesaluran schellem) atau dengan meningkatnya tekanan pada vena-vena sekitar sclera yang bermuara kesaluran schellem. Sedikit humor aqueous dapat maengalir keruang otot-otot ciliary kemudian ke ruang suprakoroid. Pemasukan kesaluran schellem dapat dihambat oleh iris. Sistem pertahanan katup (Valsava manuefer) dapat meningkatkan tekanan vena. Meningkatkan tekanan vena sekitar sklera memungkinkan berkurangnya humor aquoeus yang mengalir sehingga dapat meningkatkan IOP. Kadang-kadang meningkatnya IOP dapat terjadi karena stress emosional.

2.  PENGKAJIAN

  • Ø Riwayat Kesehatan

a. Data Demografi

Usia, Kasus Katarak, Mata Kering, Retinal Detachment, Glaukoma, entropion, ectropion, akan meningkat dengan bertambahnya usia, Sex

b. Keluhan Utama

Yang paling sering : perubahan penglihatan berkurang atau hilang.

Kurang spesifik : sakit kepala(headache) & nyeri pada mata.

  • Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Pengkajian difokuskan pada status kesehatan secara umum. Secara khusus : kaji tentang kelainan sistemik yang berhubungan dengan manifestasi okuler seperti DM, hipertensi, gangguan thyroid. Masa kecil dan Penyakit infeksi. Major ilnesses and hospitalization. Pengobatan serta Alergi.

  • Riwayat Kesehatan Keluarga

Beberapa keadaan yang mempunyai tendensi dengan keluarga terhadap kelainan okuler, antara lain : Strabismus, glaucoma,myopia dan hyperopia.

  • Riwayat Psikososial dan Pola Hidup

Riwayat psikososial dan pola hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan mata, antara lain : Pekerjaan, hoby, kegiatan di waktu luang

  • Ø Tanda dan Gejala

Gejala abnormal pada mata dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

1. Abnormal Vision ( Abnormal Penglihatan ) : Perubahan atau kehilangan penglihatan dapat terjadi akibat ketidaknormalan pada mata spt:

– Kelainan refraksi     – malfungsi retina, saraf optikus.

– lid ptosis

– kekeruhan pada kornea, lensa, rongga aqueous/vitreous

2.  Abnormal appearance : Yang paling sering mata merah bisa disebabkan oleh iritasi ringan, kongesti vaskuler, perdarahan sub conjunctiva, infeksi, alergi, trauma.

3.  Abnormal Sensasi : Nyeri mata  Sulit ditentukan lokasinya nyeri seperti ditarik, seperti ditekan, sakit kepala. Rasa nyeri bisa : periokuler, okuler, retrobulbar.

Nyeri tajam superfisial : benda asing.

Nyeri bagian dalam      : Glaukoma, inflamasi, muscle spasm, infeksi.

Nyeri alis dan photophobia, meiosis : spasme, muskulus siliaris dan iris akibat adanya inflamasi.

Mata gatal                     : reaksi alergi.

Mata berair                   : iritasi, gangguan sistem lakrimalis.

Sekresi                          : iritasi, infeksi, alergi.

  • Ø Pemeriksaan Fisik Mata

a. Pemeriksaan Mata External : Posisi mata, Alis mata, Palpebra & Bulu mata. Refleks berkedip, Bola mata, Aparatus lakrimalis, Conjunctiva dan sclera, Cornea, Reflex cornea, Iris dan pupil.

b. Pemeriksaan Motilitas Bola Mata: Untuk mendapatkan mata tentang otot luar bola mata, orbita,saraf kranial III, IV dan VI, brainstem dan korteks serebral. Normal: ke 2 bola mata bergerak mengikuti Pandangan 6 arah.

c. Pemeriksaan Penglihatan

1. Visual Acuity (Ketajaman Penglihatan) : Pemeriksaan V.A. merupakan metoda yang rutin & standar untuk menentukan keadaan media okuler (cornea, lensa dan vitreous) dan fungsi pathway penglihatan dari retina sampai ke otak.

2. Visual Fields ( Lapangan Pandang) :Pemeriksaan lapangan pandang dilakukan untuk mengevaluasi penglihatan perifer. Normal visual fields adalah :

50 ° arah superior, 90 ° arah lateral,70 ° arah inferior, 60 ° arah medial.

d. Pemeriksaan Mata Internal

1. Opthalmoscopy : Untuk memeriksa bola mata bagian dalam / fundus mata.

2. Goniometry       :  Untuk menentukan tekanan bola mata. Normal : 8 – 21 mmHg.

3. Slit lamp (Lampu Celah) : Untuk memeriksa penyakit / kelainan pada kelopak mata dan bola mata yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

  • Ø Lapang Pandang

Prinsip: Mengenal obyek atau menghilangnya obyek itu di luar dan di dalam daerah lapang pandang. Mata yang diperiksa harus tetap mengarah pada titik fiksasi sentral. Obyek yang digerakkan perlu dicatat : Warna, besarnya. Demikian juga jarak dari mata ke titik fiksasi sentral (1/3,1,2m). Penderita yang kurang mengerti atau kurang kerjasama, sulit untuk diperiksa secara seksama. Warna yang umum : putih. Besar obyek : kecil untuk lapang pandangan perifer (5mm atau lebih tergantung derajat persepsi mata). Pengukuran dapat dipakai kampimeter dan perimeter untuk mengukur lapang pandangan perifer, dan tabir Bjerrum untuk lapang pandangan sentral. Bidang lengkung yang terutama berguna untuk pemeriksaan lapang pandangan perifer. Pemeriksaan lapang pandang perifer yang sederhana. Jarak pemeriksa ke penderita 60 cm, berhadap-hadapan, sama tinggi. Tutup sebelah mata masing-masing, yang sehadap. (Penderita menutup dengan tangannya sendiri atau penutup hitam, dan pemeriksa memicingkan). Titik fiksasi adalah jari telunjuk pemeriksa yang ditetapkan di tengah antara mata masing-masing yang terbuka. Obyek adalah jari telunjuk tangan pemeriksa yang sebelahnya, yang digerakkan dari arah perifer kearah jari fiksasi, dari segala arah. Penilaian : Membandingkan apakah saat pemeriksa sudah melihat dari (obyek) yang digerakkan, penderita juga demikian. Untuk lapang pandang sebelah arah jari fiksasi, ganti peranan dari jari, yang jadi titik fiksasi sekarang jadi obyek dan sebaliknya.

  • Ø TONOMETRI

Cara penderita ditidurkan tanpa bantal Tetesi mata dengan tetes mata pantokain Bersihka telapak tonometer dengan kasa, yang dibasahi alkohol dan dibiarkan menguap dulu. Penderita disuruh membuka kedua matanya dan menatap lurus kertas pada ujung jarinya sendiri yang diposisikan tepat diatas mata yang tak diukur. Pegang tonometer pada pemegangnya dan dekatkan telapatnya dengan hati – hati kepermukaan kornea. Perlu memperingatkan penderita berulang – ulang supaya menatap terus tegak lurus keatas, baca skala yang tertunjuk, kalau perlu ulang 2 – 3 kali Bila skala bergoyang, ambil rata – ratanya Lihat nilai tekanan dalam daftar konversi untuk beban yang dipakai.

  • Ø Kelainan Refraksi

Keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata. Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

  • Ø Kesan Terhadap Warna

Satu lensa. Di belakang lensa mata akan terjadi bayangan terbalik karena sifat optik dari lensa. Selanjutnya bayangan ini diubah menjadi sinyal-sinyal biolistrik oleh retina untuk disampaikan ke otak. Akhirnya orang mendapatkan kesan melihat benda tersebut setelah otak menangkap dan mengolah sinyal-sinyal tersebut.

Mata manusia dapat melihat karena adanya pantulan cahaya dari benda. Cahaya yang dapat ditangkap oleh mata manusia berada pada daerah optik dengan rentang panjang gelombang 350-780 nm. Intensitas cahaya dinyatakan sebagai sebaran energi I(λ) dan mata manusia sanggup beroperasi pada 10 orde derajat luminansi.

Rerpresentasi Warna

Warna yang dilihat mata bergantung pada kandungan spektral (komposisi panjang gelombang), misalnya cahaya dengan kandungan spektral tinggi pada daerah 700 nm akan menunjukkan warna merah.

3. Prosedur Diagnostik

  • Ø Fluorescein Angiografi
    adalah tes yang memungkinkan pembuluh darah di belakang mata untuk difoto sebagai pewarna neon disuntikkan ke dalam aliran darah melalui tangan atau lengan. Hal ini terutama berguna dalam pengelolaan retinopati diabetes dan degenerasi makula. Natrium fluorescein adalah senyawa kimia yang sangat neon yang menyerap cahaya biru dengan fluoresensi. Meskipun sering disebut sebagai fluorescein, pewarna yang digunakan dalam angiografi fluorescein adalah natrium, garam natrium dari fluorescein. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa itu adalah ‘sayur pewarna’ bukan sintetis.

Prosedur
Pasien akan dilebarkan dengan tetes mata dan pewarna kuning disuntikkan ke pembuluh darah di lengan Anda. Selama injeksi, bisa ada perasaan hangat atau flush panas dapat dialami. Ini hanya berlangsung detik dan kemudian menghilang. Setelah injeksi, foto yang diambil dengan cepat selama sekitar 60 detik sebagai pewarna memasuki pembuluh di bagian belakang mata Anda. Lampu menyala pada Anda mungkin terlihat cerah namun tidak akan merusak mata Anda. Adalah umum bagi kulit menjadi kuning pucat dan urin kuning neon berwarna setelah prosedur dan ini mungkin memerlukan dua hari untuk luntur.

  • Tes Fluorescein
    Ini adalah tes yang menggunakan pewarna oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada kornea, permukaan luar mata.

Prosedur
Sepotong kertas blotting yang mengandung pewarna akan tersentuh ke permukaan mata Anda. Anda akan diminta untuk berkedip. Berkedip menyebar pewarna sekitar dan melapisi “film air mata” menutupi permukaan kornea. (Film air mata mengandung air, minyak, dan lendir untuk melindungi dan melumasi mata.)
Lampu biru ini kemudian diarahkan ke mata Anda. Setiap masalah pada permukaan kornea akan diwarnai dengan pewarna dan tampak hijau di bawah cahaya biru.
Penyedia perawatan kesehatan dapat menentukan lokasi dan penyebab kemungkinan masalah kornea tergantung pada ukuran, lokasi, dan bentuk pewarnaan.

Persiapan Diri
Anda harus menghapus lensa kontak Anda sebelum ujian.
Jika mata sangat kering, kertas blotting mungkin sedikit gatal. Pewarna dapat menyebabkan sensasi menyengat ringan dan singkat.
Tes ini berguna dalam mengidentifikasi goresan dangkal atau masalah lain dengan permukaan kornea. Hal ini juga dapat membantu mengungkapkan benda asing pada permukaan mata. Hal ini dapat digunakan setelah kontak yang diresepkan untuk menentukan apakah ada iritasi pada permukaan kornea.
Hasil normal : Jika hasil tes adalah normal, pewarna tetap dalam film air mata pada permukaan mata dan tidak mematuhi mata itu sendiri.

Catatan: rentang nilai normal dapat sedikit berbeda antara laboratorium yang berbeda. Bicara dengan dokter tentang arti hasil spesifik Anda uji.
Apa Hasil Abnormal Mean

* Abnormal produksi air mata (mata kering)
* Kornea abrasi (goresan pada permukaan kornea)
* Asing tubuh, seperti bulu mata atau debu (lihat mata – benda asing di)
* Infeksi
* Cedera atau trauma
* Mata kering parah yang berhubungan dengan arthritis (keratoconjunctivitis sicca)

Risiko : Jika fluorescein menyentuh permukaan kulit, mungkin ada, sedikit singkat, perubahan warna.
Pertimbangan : Tes ini sangat berguna untuk mendeteksi cedera atau kelainan pada permukaan kornea

  • Elektroretinografi
    Electroretinography (ERG) adalah tes mata digunakan untuk mendeteksi fungsi abnormal dari retina (bagian cahaya mendeteksi mata). Secara khusus, dalam tes ini, peka cahaya sel mata, batang dan kerucut, dan sel menghubungkan mereka ganglion di retina diperiksa. Selama pengujian, elektroda ditempatkan pada kornea (di depan mata) untuk mengukur respon listrik untuk menyalakan sel rasa cahaya di retina di belakang mata. Sel-sel ini disebut batang dan kerucut.Prosedur
    Pasien mengasumsikan posisi yang nyaman (berbaring atau duduk). Biasanya mata pasien yang melebar terlebih dahulu dengan standar tetes mata melebar. Tetes anestesi kemudian ditempatkan di mata, menyebabkan mereka menjadi mati rasa. Kelopak mata ini kemudian disangga terbuka dengan spekulum, dan elektroda yang lembut ditempatkan pada setiap mata dengan perangkat yang sangat mirip dengan lensa kontak. Sebuah elektroda tambahan ditempatkan pada kulit untuk menyediakan dasar untuk sinyal-sinyal listrik yang sangat samar yang dihasilkan oleh retina. Tes ini bahkan dapat dilakukan pada anak kooperatif, serta bayi dibius atau terbius. Rangsangan visual meliputi berkedip, yang disebut ERG flash, dan pola kotak-kotak membalikkan, yang dikenal sebagai pola ERG.
  • Ø  Anel Test

Pemeriksaan saluran sistem ekskresi lakrimal Dudukkan penderita dengan kepala setengah menengadah atau tidurkan. Tetesi pantokain beberapa kali Sediakan semprit 2 – 5 cc dengan jarum yang sudah ditumpulkan halus. Isi semprit dengan garam fisiologik. Sediakan dilatator Renggangkan palpebra bawah kearah lateral dan bawah. Suruh penderita melihat keatas. Lebarkan pungtum dengan dilatator, mula – mula masukkan tegak lurus sedalam 2 mm, terhadap margo palpebra, kemudian horisontal arah ke nasal. Masukkan cairan garam fisiologik dengan semprit berjarum tumpul kedalam kanalikuli lakrimal, dengan arah seperti dilatasi tadi. Penderita akan marasakan cairan masuk kerongkongan, belakang hidung bila saluran utuh. Cairan akan keluar dari pungtum superior bila ada penyempitan duktus nasolakrimal atau cairan dalam semprit sama sekali tak dapat di dorong bila ada sumbatan di kanalikuli lakrimal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2012 in Uncategorized

 

Dengue Haemorhargik Fever

LAPORAN PENDAHULUAN

Dengue Haemoragic Fever (DHF)

 

I.          Konsep dasar Dhf

A.       Definisi

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995 ; 341).

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan tipe I – IV dengan infestasi klinis dengan 5 – 7 hari disertai gejala perdarahan dan jika timbul  tengatan angka kematiannya cukup tinggi (UPF IKA, 1994 ; 201)

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak – anak tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak – anak berusia di bawah 15 tahun disertai dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang  disebabkan virus dengue dan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes. (Soedarto, 1990 ; 36).

 

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987; 16).

 

B.       Etiologi

1.         Virus dengue

Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36).

 

2.         Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).

Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37).

3.         Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.       PATOFISIOLOGI

 

                                                     Infeksi Virus Dengue               Perbanyak diri di hepar

                                  Terbentuk komplek antigen-antibodi             Hepatomegali

                                             Mengaktivasi sistem komplemen                  Mual-Muntah

PGE2 Hipotalamus              Dilepaskan C3a dan C5a (peptida)    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Melepaskan histamin

Peningkatan suhu                  Permeabilitas membran meningkat

         tubuh                                      Kebocoran plasma

                                                            Hipovolemia                                                           

                                            Renjatan hipovolemi dan hipotensi             Kerusakan endotel

                                                                                                            pembuluh darah

  • Kekurangan volume cairan

Agregasi Trombosit

Ke ekstravaskuler                               Trombositopenia                          Merangsang dan Mengaktivasi faktor pembekuan

Efusi pleura dan asites                                                        Dalam jangka waktu lama menurun dan terjadi DIC

  • Gangguan pertukaran gas        Perdarahan
  • Intoleransi activity              Gangguan perfusi jaringan    

                                                            Hipoksia jaringan   

                                                                                      Asidosis  Metabolik  Kematian

Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan.

Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular, (2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.

Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler; (2) kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati; trombositopenia; dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).

 

D.       Manifestasi KLINIS infeksi virus dengue

1.         Demam

Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. (Soedarto, 1990 ; 39).

 

2.         Perdarahan

Perdaran biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. ( Soedarto, 1990 ; 39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995 ; 349).

 

3.         Hepatomegali

Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . (Soederita, 1995 ; 39).

 

4.         Renjatan (Syok)

Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. (soedarto ; 39).

 

KLASIFIKASI DHF

Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 tingkat (UPF IKA, 1994 ; 201) yaitu :

a.         Derajat I

Panas 2 – 7 hari , gejala umumtidak khas, uji taniquet hasilnya positif

b.         Derajat II

Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala – gejala pendarahan spontan seperti petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis, melena, perdarahan gusi telinga dan sebagainya.

c.         Derajat III

Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun (120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg.

d.         Derajat IV

Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > – 140 mmHg) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

 

WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :

a.         Derajat I

Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.

b.         Derajat II

Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.

c.         Derajat III

Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( £ 120 mmHg ), tekanan darah menurun, (120/80 ® 120/100 ® 120/110 ® 90/70 ® 80/70 ® 80/0 ® 0/0 )

d.         Derajat IV

Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung ³ 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

 

Derajat (WHO 1997):

a.         Derajat I           : Demam dengan test rumple leed positif.

b.         Derajat II         : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain.

c.         Derajat III        : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi gelisah.

d.         Derajat IV        : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

 


TANDA DAN GEJALA

Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah :

–            Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.

–            Asites

–            Cairan dalam rongga pleura ( kanan )

–            Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

 

Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium, muntah – muntah, diare maupun obstipasi dan kejang – kejang. (Soedarto, 1995 ; 39).

 

E.        PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSA

Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni :

Trombositopenia (< 100.000 / mm3) , Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia (mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis (UPF IKA, 1994).

Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI (Haemaglutination ingibition) (Who, 1998 ; 69), yang hasilnya adalah

Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya, titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560.

Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium rekonvalensi tidak naik lagi. (UPF IKA, 1994 ; 202)

Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis x-foto dada, elektro kardio gram, kreatinin serum.

Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1997:

Klinis:

–            Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari.

–            Menifestasi perdarahan petikie, melena, hematemesis (test rumple leed).

–            Pembesaran hepar.

–            Syock yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan darah menurun, akral dingin dan sianosis, dan gelisah.

Laboratorium:

–            Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%.

F.        DIAGNOSA BANDING

1.         Belum / tanpa renjatan :

  1. Campak
  2. Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis, demam dari kelompok pnyakit exanthem, hepatitis, chikungunya)
  3. Demam tipoid
  4. Renjatan septik oleh kuman gram negatif lain
  5. Leukimia
  6. Anemia aplastik
  7. Ensefalitis
  8. meningitis

2.         Dengan renjatan

3.         Dengan perdarahan

4.         Dengan kejang

 

G.       PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN

Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn didasarkan atas meutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. (Soemarmo, 1998 ; 56)

Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo, 1998 ; 57)

1)        manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS

2)        memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia.

3)        Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.

4)        Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi

Menurut Rezeki S, 1998 : 22,

Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu

1)        Menguras tempat – tampet penampungan air secara teratur sekurang – kurangnya sxeminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya

2)        Menutup rapat – rapat tempat penampung air dan

3)        Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan seperti ® dilanjutkan di baliknya.

 

H.       PENATALAKSANAAN

Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah, 12995 ; 344)

Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan  penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit ( Purnawan dkk, 1995 ; 571)

Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA, 1994 ; 203) yaitu: Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang–kejang.

Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet positif/negatif, kesakitan, Hb dan Ht/PCV meningkat, Panas disertai perdarahan, Panas disertai renjatan.

Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA, 1994 ; 203 – 206 adalah.

 

Belum atau tanpa renjatan:

Grade I dan II

  1. Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen,asetosal tidak boleh diberikan

Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kaji, 4 kali sehari

Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 sehari

Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari

Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari

  1. Terapi cairan

1)        infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml / kg  BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama – sama di berikan minuman oralit, air bauh susu secukupnya

2)        Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak – banyaknya dan sesering mungkin.

3)        Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :

  • 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg
  • 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg
  • 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg
  • 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg
  • Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

 


Dengan Renjatan ;

Grade III

  1. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut :

  • 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg
  • 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.
  • 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.
  • 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.

 

  1. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

 

  1. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.


ASUHAN KEPERAWATAN

 

PENGKAJIAN

Identitas

–            Umur: DHF merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 ).

–            Jenis kelamin: secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki.

–            Tempat tinggal: penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja, kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di Indonesia, bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat.

Keluhan utama

Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.

 

Riwayat penyakit sekarang

Sering terdapat riwayat sakit kapala, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, panas. Sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati, mual, muntah dan penurunan nafsu makan.

 

Riwayat penyakit terdahulu

Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang dengan strain yang berbeda.

 

Riwayat penyakit keluarga

Penyakit ini  tidak ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu.

Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.

 

Riwayat kesehatan lingkungan

DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk, yaitu 2 nyamuk aedes:

–            Aedes aigepty: Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah, yaitu pada tempat penampungan air bersih, seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. Dengan jarak terbang nyamuk + 100 meter.

–            Aedes albapictus.

 

Riwayat tumbuh kembang

Tahap pertumbuhan

Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun  yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

 

Tahap perkembangan.

  • Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
  • Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
  • Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
  • Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
  • Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
  • Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
  • Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
  • Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
  • Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
  • Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.

Riwayat imunisasi

Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.

Riwayat nutrisi

Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.

Status Gizi 

Klasifikasinya sebagai berikut :

  • Gizi buruk kurang dari 60%
  • Gizi kurang 60 % – <80 %
  • Gizi baik 80 % – 110 %
  • Obesitas lebih dari 120 %

Dampak Hospitalisasi

Sumber stressor :

  1. Perpisahan
    1. Protes : pergi, menendang, menangis
    2. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
    3. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
    4. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
    5. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
    6. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.

 

Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem

  1. Sistem Pernapasan / Respirasi

Sesak, perdarahan melalui hidung (epistaksis), pernapasan dangkal, tachypnea, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, effusi pleura (crackless).

 

  1. Sistem Cardiovaskuler

Pada grade I :  uji tourniquet positif, trombositipenia, perdarahan spontan dan hemokonsentrasi.Pada grade II disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah (tachycardia),tekanan nadi sempit,  hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, kulit dingin dan lembab.Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

 

  1. Sistem Persyarafan / neurologi

Pada grade I dan II kesadaran compos mentis. Pada grade III dan IV gelisah, rewel, cengeng  → apatis → sopor → coma. Grade 1 sampai dengan IV dapat terjadi kejang, nyeri kepala dan nyeri di berbagai bagian tubuh, penglihatan fotopobia dan nyeri di belakang bola mata.

 

  1. Sistem perkemihan

Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam terutama pada grade III, akan mengungkapkan nyeri saat  kencing, kencing berwarna merah.

 

  1. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal

Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa disertai dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena).

 

  1. Sistem integumen

Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering dan ruam makulopapular

 

  1. 1.         Riwayat Tumbuh Kembang
    1. Tahap pertumbuhan

Pada anak umur empat tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun  yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untu anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

b.    Tahap perkembangan.

  • Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
  • Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
  • Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
  • Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
  • Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
  • Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
  • Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
  • Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
  • Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
  • Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.

 

  1. II.       PEMERIKSAAN FISIK / PENGKAJIAN PERSISTEM

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia).
  2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
  3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
  4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
  5. Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni )
  6. Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan
  7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

 

Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Kriteria Hasil, Intervensi & Rasional

 

  1. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia).

Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan.

Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37, membran mukosa basah, nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt), Nyeri otot hilang.

Intervensi :

  1. Berikan kompres (air biasa / kran).

Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi

  1. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )

Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.

  1. Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat pada klien.

Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.

  1. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.

Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

  1. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai program.

Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

 

  1. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik.

Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt), Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill < 3 detik, Pulsasi kuat.

Intervensi :

  1. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering

Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler

  1. Observasi capillary Refill

Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer

  1. Observasi intake dan output. Catat jumlah, warna, konsentrasi, BJ urine.

Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

  1. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi)

Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral

  1. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena, plasma atau darah.

Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

 

  1. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal

Intervensi :

  1. Monitor keadaan umum pasien

Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok

  1. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok

  1. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan

Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.

  1. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.

  1. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo

Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

 

  1. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi

Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan berat badan, Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien, mual dan muntah berkurang.

Intervensi :

  1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai

Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi

  1. Observasi dan catat masukan makanan pasien

Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan

  1. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )

Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.

  1. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan

Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.

  1. Berikan dan Bantu oral hygiene.

Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral

  1. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas.

Rasional : : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah.

  1. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan bagi proses penyembuhan.
  2. Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
  3. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual.
  4. Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat.
  5. Observasi porsi makan klien, berat badan dan keluhan klien.

 

  1. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ).

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan.

Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, tidak ada perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan melena), trombosit dalam batas normal (150.000/uL).

Intervensi :

  1. Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest )

Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

  1. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan, dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi, hidung(epistaksis), berak darah (melena), atau muntah darah (hematemesis).

Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.

  1. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan).

Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

  1. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap).
  2. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.

Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.

  1. Monitor trombosit setiap hari

Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.

  1. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

 

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

 

Mansjoer, Arif & Suprohaita. (2000). Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Jakarta.

 

Ngastiyah (1997). Perawatan Anak Sakit. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Soeparman. (1987). Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Penerbit FKUI. Jakarta.

 

Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta.

 

Suharso Darto (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi. F.K. Universitas Airlangga. Surabaya.

 

                    (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 3, 2012 in Uncategorized

 

askep morbili

ASKEP MORBILI

Definisi

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)

Etiologi :

Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.

Cara penularan dengan droplet infeksi.

Epidemiologi :

Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.

 

Patofisiologi :

Droplet Infection (virus masuk)

Berkembang biak dalam RES

Keluar dari RES keluar sirkulasi

Pirogen :

– pengaruhi termostat dalam hipotalamus

Titik setel termostat meningkat

Suhu tubuh meningkat

– pengaruhi nervus vagus ® pusat

muntah di medula oblongata.

muntah

anorexia

malaise

Mengendap pada organ-organ yang

secara embriologis berasal dari ektoderm seperti pada :

Mukosa mulut

infiltrasi sel-sel radang mononuklear pada kelenjar sub mukosa mulut

Koplik`s spot

– Kulit

Ploriferasi sel-sel endotel kalpiler di dalam korium

Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang eritrsit dalam epidermis

Rash/ ruam kulit

Konjunctiva

terjadi reaksi peradangan umum

Konjuctivitis

Fotofobia

– mukosa nasofaring dan broncus

infiltrasi sel-sel sub epitel dan sel raksasa berinti banyak

Reaksi peradangan secara umum

Pembentukan eksudat serosa disertai proliferasi sel monokuler dan sejumlah kecil pori morfonuklear

Coriza/ pilek, cough/ batuk

Sal. Cerna

Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada usus buntu ® mukosa usus teriritasi ® kecepatan sekresi bertambah ® pergerakan usus meningkat ® diare

Manifestasi klinis

Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium

1. Stadium kataral (prodormal)

Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringan hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.

2. Stadium erupsi

Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

3. Stadium konvalesensi

Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi

 

 

Komplikasi

– Otitis media akut

– Pneumonia / bronkopneumoni

– Encefalitis

– Bronkiolitis

– Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

Pencegahan

1. Imunusasi aktif

Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.

Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.

2. Imunusasi pasif

Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.

Pengobatan

Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.

Pemeriksaan Diagnostik

  • Pemeriksaan Fisik
  • Pemeriksaan Darah

Penetalaksanaan Teraupetik

  • Pemberian vitamin A
  • Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
  • Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
  • Pemberian obat batuk dan sedativum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian

A. Identitas diri :

B. Riwayat Imunisasi

C. Kontak dengan orang yang terinfeksi

D. Pemeriksaan Fisik :

1) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia

2) Kepala : sakit kepala

3) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (pada stad eripsi ).

4) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.

5) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas (demam).

6) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum

7) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.

8) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare

9) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan

E. Keadaan Umum : Kesadaran, TTV

 

II. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Morbili adalah

1. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan organisme virulen

2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya batuk

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya rash

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

5. Gangguan aktivitas diversional berhubungan dengan isolasi dari kelompok sebaya

III. Perencanaan

1. Perluasan infeksi tidak terjadi

2. Anak menunjukkan tanda-tanda pola nafas efektif

3. Anak dapat mempertahankan integritas kulit

4. Anak menunjukan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan nutrisi

5. Anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan selama menjalani isolasi dari teman sebaya atau anggota keluarga.

IV. Implementasi

1. Mencegah peluasan infeksi

o Tempatkan anak pada ruangan khusus

o Pertahankan isolasi yang ketat di rumah sakit

o Gunakan prosedur perlindugan infeksi jika melakukan kontak dengan anak

o Mempertahankan istirahat selama periode prodromal (kataral)

o Berikan antibiotik sesuai dengan order

2. Mempertahankan pola nafas yang efektif

o Mengkaji ulang status pernafasan (irama, edalaman, suara nafas, penggunaan otot bantu pernafasan, bernafas melalui mulut)

o Mengkaji ulang tanda-tanda vital (denyut nadi, irama, dan frekuensi)

o Memberikan posisi tempat tidur semi fowler / fowler

o Membantu klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampaunnya

o Menganjurkan anak untuk banyak minum

o Memberikan oksigen sesuai dengan indikasi

o Memberikan obat-obatan yang dapat meningkatkan efektifnya jalan nafas (seperti Bronkodilator, antikolenergik, dan anti peradangan)

3. Mempertahankan integritas kulit

o Mempertahankan kuku anak tetap pendek, menjelaskan kepada anak untuk tidak menggaruk rash

o Memberikan obat antipruritus topikal, dan anestesi topikal

o Memberikan antihistamin sesuai order dan memonitor efek sampingnya

o Memandikan klien dengan menggunakan sabun yang lembut untuk mencegah infeksi

o Jika terdapat fotofobia, gunakan bola lampu yang tidak terlalu terang di kamar klien

o Memeriksa kornea mata terhadap kemungkinan ulserasi

4. Mempertahankan kebutuhan nutrisi

o Kaji ketidakmampuan anak untuk makan

o Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki status gizi pada saat selera makan anak meningkat.

o Berikan makanan yang disertai dengan supleman nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi

o Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral jika kebutuhan nutrisi melalui oral tidak mencukupi kebutuhan gizi anak

o Menilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi (berat badan, lingkar lengan, membran mukosa)

o Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tapi sering

o Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama

o Mempertahankan kebersihan mulut anak

o Menjelaskan pentingya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit

 

5. Mempertahankan kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan

o Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak (permainan, keterampilan tangan, nonton televisi)

o Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulasi yang bervariasi bagi anak

o Melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas yang diinginkan

o Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah sakit, menganjurkan anak untuk berhubungan dengan teman melalui telepon jika memungkinkan

V. Perencanaan Pemulangan

ü Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, efek samping

ü Melakukan imunisasi jika imunisasi belum lengkap sesuai dengan prosedur

ü Menekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadwal

ü Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI

Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2012 in Uncategorized

 

Askep Perilaku Kekerasan

ASUHAN KEPERAWATAN INTENSIF

PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN

 

Perilaku kekerasan merupakan  keadaan dimana seseorang tidak dapat mengontrol perilaku marahnya sehingga dieksprresikan dalam bentuk mencederai diri sendiri, orang lain dan merusak lingkungan sehingga membutuhkan  tindakan  yang segera.

Kondisi pasien  perilaku kekerasan saat dibawa ke rumah sakit biasanya dalam keadaan diikat/ borgol dan sangat gaduh gelisah. Pasien dengan perilaku tidak terkontrol atau perilaku kekerasan sangat membahayakan  bagi pasien itu sendiri, orang lain serta lingkungan dan membutuhkan penanganan  oleh Tim yang profesional serta membutuhkan terapi medikasi

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pelatihan  UPIP perawat  dapat :

  1. Melakukan pengkajian intensif pasien perilaku kekerasan
  2. Menetapkan diagnosa keperawatan pasien perilaku kekerasan
  3. Melakukan tindakan keperawatan intensif pada pasien perilaku kekerasan
  4. Melakukan tindakan keperawatan intensif pada  keluarga pasien perilaku kekerasan
  5. Mengevaluasi  kemampuan pasien dan keluarga dalam menangani masalah perilaku kekerasan
  6. Melakukan rujukan pasien
  7. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan perilaku kekerasan

B.Pengertian

Perilaku kekerasan adalah  bentuk  perilaku agresif fisik dan atau verbal yang dapat melukai atau mencederai  diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Jadi tindak kekerasan merupakan perilaku kekerasan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi karena rasa curiga pada orang lain, halusinasi yang mengendalikan perilaku, serta karena ada keinginan yang tidak terpenuhi.

Perilaku kekerasan merupakan ekspresi marah yang paling maladaptif, tergambar dalam bentuk rentang respons sebagai berikut:

Gambar 1. Rentang Respon Perilaku Kekerasan

 

 

 

 

 

 

Di UPIP pasien perilaku kekerasan yang biasanya datang dalam kondisi yang sangat agitatif sehingga fokus penanganan adalah melindungi pasien, orang lain, dan lingkungan dari kemungkinan cedera atau kerusakan yang diakibatkan perilaku pasien yang tidak terkontrol.

C. Pengkajian perilaku kekerasan di UPIP

Pengkajian pada pasien perilaku kekerasan  di ruang UPIP menggunakan  rentang skore 1 – 30 skala Respon Umum Fungsi Adaptaf ( RUFA ) dimana pengkajian tersebut terbagi dalam 3 kelompok berdasarkan skala RUFA yaitu :

Skala RUFA Perilaku Kekerasan

Domain

Rufa 1-10

Rufa 11-20

Rufa 21-30

Pikiran Orang lain jahat, mengancam, melecehkan Orang lain jahat, mengancam, melecehkan Orang lain jahat, mengancam, melecehkan
Perasaan Labil, mudah tersinggung,  ekspressi tegang, marah- marah, dendam, merasa tidak aman. Labil, mudah tersinggung, ekspressi tegang,dendam merasa tidak aman Labil, mudah tersinggung, ekspressi tegang, merasa tidak aman
Melukai diri sendiri, orang lain,merusak lingkungan,  mengamuk, menentang, mengancam, mata meloto

Bicara kasar, intonasi tinggi, menghina orang lain,     menuntut, berdebat

Muka merah, Pandangan tajam, napas pendek,  keringat (+), tekanan darah meningkat Menentang,  mengancam, mata melotot

Bicara kasar, Intonasi sedang, menghina orang lain,     menuntut, berdebat

Pandangan tajam, tekanan darah meningkat

Menentang Intonasi sedang, menghina orang lain,      berdebat Pandangan tajam, tekanan darah menurun

Hasil dari pengkajian akan menentukan tindakan keperawatan yang akan diberikan terhadap klien. Tindakan keperawatan  dibagi dalam  3 kategori yaitu

RUFA 01 – 10  masuk dalam tindakan intensif 1

RUFA 11 – 20  masuk dalam tindakan intensif 2

RUFA 21 – 30  masuk dalam tindakan intensif 3

D. Asuhan Keperawatan  Intensif pada pasien Perilaku Kekerasan

1. Asuhan keperawatan Intensif 1 ( 24 jam pertama )

 

a. Diagnosa

PERILAKU KEKERASAN

b. Tindakan Keperawatan pada pasien

1)      Tujuan :

Pasien tidak membahayakan dirinya, orang lain dan lingkungan

2)      Tindakan:

(1)   Komunikasi terapeutik

  • Bicara dengan tenang
  • Vokal jelas dan nada suara tegas
  • Intonasi rendah
  • Gerakkan tidak tergesa-gesa
  • Pertahankan posisi tubuh
  • Jaga jarak 1 – 3 langkah dari klien

(2)   Siapkan lingkungan yang aman

  • Lingkungan tenang
  • Tidak ada barang-barang yang berbahaya atau singkirkan semua benda yang membahayakan

(3)   Kolaborasi

  • Ukur tanda vital : tekanan darah, nadi, Suhu,
  • Jelaskan secara singkat pada pasien tentang tindakan kolaborasi yang akan di lakukan
  • Berikan obat-obatan sesuai standar medik seperti transqualiser sesuai program terapi (Pengobatan dapat berupa suntikan valium 10 mg IM/IV  3 – 4 x I amp / hari dan suntikan Haloperidol ( Serenace ) 5 mg, 3- 4 x 1amp / hari )
  • Pantau keefektifan obat-obatan dan efek sampingnya

( 4 ) Observasi pasien setiap 15 menit sekali, catat adanya peningkatan atau penurunan perilaku ( yang harus di perhatikan oleh perawat terkait dengan perilaku, verbal, emosi, dan fisik )

( 5 ) Jika perilaku pasien tidak terkendali dan semakin tidak terkontrol, terus mencoba melukai dirinya sendiri,  orang lain dan merusak lingkungan maka   dapat dilakukan tindakan pembatasan gerak, dan segera kolaborasi dengan dokter. Jika perilaku masih tidak terkendali dapat dilakukan pengekangan dan  tindakan pengekangan merupakan tindakan  akhir sebelum pasien berespon terhadap efek obat.

( 6)  Tindakan pembatasan gerak / pengekangan

  • Jelaskan  tindakan yang akan dilakukan , bukan sebagai hukuman tapi untuk mengamankan klien , orang lain dan lingkungan dari perilaku klien yang kurang terkontrol
  • Siapkan ruang isolasi/ alat pengekang ( restrain )
  • Lakukan kontrak untuk mengontrol perilakunya

Jika tindakan pengekangan dilakukan

  • Lakukan pengikatan pada ekstremitas dengan petunjuk ketua tim
  • Lakukan observasi pengekangan dengan skala RUFA setiap 30 menit
  • Perawatan pada daerah pengikatan

ü  Pantau kondisi kulit yang diikat : warna,temperatur,sensasi

ü  Lakukan latihan gerak pada tungkai yang diikat secara bergantian setiap 2 jam

ü  Lakukan perubahan posisi pengikatan

  • Libatkan dan latih klien untuk mengontrol perilaku sebelum ikatan dibuka secara bertahap
  • Kurangi pengekangan secara bertahap, mis : ikatan dibuka satu persatu secara bertahap
  • Jika klien sudah mulai dapat mengontrol perilakunya, maka klien sudah dapat di coba untuk bersama-sama dengan klien lain dengan terlebih dahulu membuat kesepakatan yaitu jika kembali perilakunya tidak terkontrol maka klien akan di isolasi /pengkangan kembali.

Tindakan keperawatan untuk pasien

 

SP 1 pasien:

  • Membina hubungan saling percaya
  • mengukur tanda-tanda vital
  • Mengkaji keluhan utama
  • Mengajarkan latihan tarik napas dalam

ORIENTASI

“Assalamualaikum  “

“Nama saya Zr P, perawat di ruang ini , saya akan membantu bapak/ ibu!” bapak/ibu tidak usah khawatir ….aman disini,” “ Nama bapak/ ibu siapa?”Suka dipanggil apa”Sekarang  saya akan mengukur tekanan darah, suhu tubuh dan nadi bapak/ ibu, sekitar 10 menit.

           

KERJA

“Ayo…..silahkan … bapak/ ibu tidur di tempat tidur ini,””saya akan periksa …!”

Bpk/ibu, buka bajunya  saya akan memasukan termometer ini untuk  dikepit di ketiak bpk/ibu, saya bantu yah bu. “  Nah sekarang tangannya lurus karena  saya akan  pasang alat pengukur tekanan darah, tidak sakit kok.. (perawat mengukur tekanan darah dan suhu tubuh pasien) . “ Sudah selesai, sekarang saya pegang pergelangan bpk/ibu sebentar untuk megukur  nadinya dulu yah bu,tidak usah takut (selama satu menit perawat menghitung nadi sekaligus menghitung frekuensi napas). “sudah selesai,tidak sakitkan ?  “ dan ada masalah apa dirumah sehingga bapak / ibu sepertinya kesal seperti ini? Baik kelihatannya bapak/ibu masih kesal…Nach… coba sekarang  tarik napas dalam supaya rasa kesalnya berkurang, (perawat mencontohkan tarik napas dalam). “ Bagus….lebih  enak …? ”” Sekarang coba ….Istigfar….atau nyebut nama ALLAH supaya lebih tenang….!  Baiklah bpk/ibu, karena coba tenangkan diri dengan tarik nafas dalam dan Istiqfar.  Bapak /ibu  istirahat dulu sebentar dikamar  ini.

 

Terminasi

“Bpk/ibu, saya tinggal sebentar dan bapak / ibu akan ditemani oleh keluarga  dulu, saya akan kembali dalam  lima menit untuk memberikan suntikan agar bapak/ibu merasa lebih tenang.” Sambil menunggu saya kembali….. bapak/ibu bisa terus latihan tarik napas dalam atau istigfar …ya  Assalamualaikum……

Sp 2 pasien:

Memberikan injeksi Diazepam 10 mg dan serenace ( Haloperidol ) 5 mg

Fase Orientasi:

Assalamualaikum bapak/ Bu, bagaimana sudah mulai lega?”Baiklah sekarang saya akan menyuntik bapak/ibu  supaya bapak/ ibu lebih tenang dan bisa istirahat,  tidak lama koq…., hanya lima menit.

 

Fase Kerja:

Bapak/ibu….saya akan menyuntik 2 x, satu di tangan dan satu lagi di pantat,  dan akan terasa sakit sedikit karena ditusuk jarum,bapak/ibu tidak usah takut karena setelah itu bapak / ibu bisa tidur dengan nyaman.  Silahkan bapak/ibu, tiduran,  tidak usah  takut, suntikan yang di tangan ini diberikan lewat pembuluh darah, sekarang coba luruskan tanganya kalau terasa sakit tarik napas ya…… ( lakukan dengan gentle / sikap perawat gentle dan kalau pasien menolak dan tidak mau kerjasama minta bantuan). “ nach…. Satu lagi… bapak/ibu sekarang telungkup sebentar, , dan buka  celananya / turunkan bajunya…..saya suntik satu lagi ya….., sudah selesai tidak sakit kan…? “ “ Sekarang bapak/ibu agak ngantuk….? Boleh tidur saja! “

Fase Terminasi:

“ Nach….. sudah selesai nyuntiknya , sekarang bapak/ibu istirahat ya,dan coba dirasakanapakah setelah disuntik lebih enak ,, saya akan kembali mengontrol bapak/ibu setiap 15 menit.. jika ada yang dirasa tidak nyaman bisa hubungi saya, selamat istirahat, Assalamuallikum….!

Sp 3 pasien

– melakukan observasi pada pasien dengan perilaku kekerasan

Fase Orientasi:

“Assalamualaikum  “

“Bagaimana perasaan bapak/ibu sekarang …., lebih tenang….?” “  Saya akan menemani selama 10 menit, untukbercakap-cakap tentang keluhan  bapak/ibu “

 

Fase Kerja

“ Apa yang masih dirasakan tidak nyaman oleh bapak/ibu…?” Apakah ada perbedaan yang dirasakan setelah dapat suntikan tadi? “ ada yang mau disampaikan…?”” oh…..jadi bapak/ibu masih jengkel….? Ayoo…..istigfar…..atau mau tarik napas dalam…? Biar lebih lega…….! “ nach gitu…. Bagus……lagi coba tarik napasnya…

“ masih belum lega,,.?

 

Fase Terminasi

“ Baik bapak/ibu   ….sepertinya  bapak/ibu masih belum bisa mengontrol marahnya, jadi coba terus tarik napas dalam nya, sampai lega, nanti saya aka segera kembali tiap 15 menit untuk mengontrol perkembangan bapak/ibu

 

Sp 4 pasien

–                                                                                                                           melakukan tindakan pembatasan gerak / pengekangan (pisahkan pembatasan gerak dan pengekangan fisik)

ORIENTASI

“Assalamualaikum pak/ Bu “

“Saya Zr P, perawat di ruang ini , dansaya akan membantu bapak/ ibu?”

“Bapak / ibu aman disini, dan karena prilaku bapak /ibu membahayakan bagi bapak / ibu sendiri dan orang lain , kami harus mengambil tindakan untuk  menghindari akibat  perilaku bapak/ibu?”

KERJA

“Bapak / Ibu… kami terpaksa menempatkan bapak/ibu dikamar khusus karena dapat berbahaya bagi orang lain dan lingkungan.” Tujuannya agar bapak/ibu menjadi aman“ (laksanakan dengan koordinasi tim minimal ada 3 orang)

“Nach… bapak / ibu sekarang tempat bapak / ibu disini dulu, kalau bapak / ibu butuh sesuatu panggil kami, dan kami tetap akan memperhatikan bapak / ibu setiap 15 menit, “

“dan jika bapak / ibu masih belum bisa mengontrol perilaku, maka akan dilakukan pengekangan, jadi coba kendalikan dengan tarik napas atau baca istigfar “

 “ nanti kalau bapak / ibu sudah lebih relaks, dan lebih nyaman bapak / ibu bisa berada diluar bersama-sama dengan teman yang lain”

 

 “ Nach……. Bapak / Ibu tidak usah khawatir kami akan selalu mendampingi, dan  akan mendatangi bapak / ibu setiap 15- 30  menit untuk membantu bapak / ibu. Jadi kalau ada sesuatu yang mau disampaikan silahkan .!”

 

 

TERMINASI

“ Bagaimana perasaan bapak / ibu sekarang ?, kalau rasa mengantuk istirahatkan saja dulu. .ya.” nanti kalau bapak / ibu sudah lebih tenang dan bisa mengontrol emosinya  ikatan ini akan segera kami buka.”  Dan nanti setiap 15 – 30 menit saya akan mengontrol bapak / ibu.” “ Selamat beristirahat “

 

 

c. Tindakan keperawatan untuk kelurga

1) Tujuan:                                                           

a)      Keluarga mampu mengenal masalah perilaku kekersan pada anggota keluarganya

b)      Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah perilaku kekerasan

c)      Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah perilaku kekerasan

d)      Keluarga mampu mempraktekkan cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan di level intensif I

2) Tindakan keperawatan

a) Diskusikan tentang pengertian perilaku kekerasan

b) Diskusikan tentang tanda dan gejala perilaku kekerasan

c) Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari perilaku kekerasan

d) Diskusikan cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan dengan cara mengajarkan tehnik relaksasi napas dalam

e) Jelaskan tentang terapi obat pasien pada level intensif I

Tindakan pada keluarga

Sp 1 Keluarga: 

– Membina hubungan saling percaya

– Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan akibat perilaku kekerasan

– Mengajarkan cara melatih pasien napas dalam

– Menjelaskan terapi injeksi untuk pasien di level intensif I

Fase Orientasi:

“Assalamualaikum pak!”, perkenalkan nama saya Zr PH, panggil saya Zr P, saya perawat yang merawat anggota keluarga bapak yaitu pak Udin. “Nama bapak siapa, suka dipanggil apa?”

” Bisa bapak cerita apa yang terjadi dirumah sehingga bapak membawa pak Udin. kerumah sakit ini?” ” Jadi pak Udin mengamuk dirumah,….dan merusak alat-alat rumah tangga….?”Baiklah pak, kalau begitu….kita akan berbincang-bincang tentang kondisi pak Udin. “Berapa lama kita bincang-bincang? “Bagaimana kalau 20 menit”.”Dimana tempatnya pak? Bagaimana kalau disini saja?”

 

Fase Kerja:

“Bisa kita mulai ya pak….., Nach menurut pendapat bapak, pak Udin?” Oh….jadi sering mengamuk, membanting barang dan kadang-kadang mukul orang. Apa yang bapak lakukan di rumah?Apakah pernah  di ikat atau dikurung dirumah?”Ya…usaha bapak membawa pak Udin kesini tepat sekali.!

” Pak…sesuai dengan keterangan bapak tadi tentang pak Udin.., sering ngamuk dan mencelakai orang lain itu disini disebut dengan perilaku kekerasan yang artinya  perilaku pak Udin dapat mencederai orang lain dan merusak lingkungan”.”dan sekarang bisa bapak ceritakan kira-kira penyebab pak udin mengamuk itu apa…?” Jadi tidak jelas…..! ” Ya Pak ….biasanya orang mengamuk ..karena ada perasaan kecewa karena  ada sesuatu yang diharapkan tidak terjadi atau tidak terpenuhi, atau merasa mendengar suara-suara yang mengejek dan menghina atau menyuruh pak Udin untuk memukul orang lain , dan bapak bisa lihat tanda – tandanya seperti tadi yang bapak katakan yang ada pada pak Udin ya……..seperti  membanting barang, memukul, nada suaranya tinggi, mata melotot, napasnya pendek, muka merah, tangan mengepal dan kalau kita ukur tekanan darahnya bisa meningkat. Nadinya pun tinggi.”” nach….itu yang disebut tanda dan gejala orang dengan perilaku kekerasan.” dan ” akibat dari apa yang dilakukan oleh Pak Udin tadi bisa bapak rasakan tidak….?” ” ya… benar…pak..orang-orang jadi takut, barang-barang jadi rusak dan mungkin pak udinnya sendiri cidera ya…!”

” Pak…..keluarga bapak dirawat dirumah sakit ini, dan disini pak Udin akan menjalani tiga tahap perawatan ya, untuk yang pertama karena pak udin perilakunya tidak terkontrol maka masuk ke level 1, dan dilevel 1 ini akan diawasi secara  ketat oleh perawat, dan juga bapak sebagai keluarga. Dan pada saat ini  yang sudah dilakukan terhadap pak Udin seperti tadi yang bapak lihat yaitu relaksasi dengan tarik napas dalam, dan pak udin suruh istigfar selain itu juga telah diberi obat suntikan….” ” nach untuk tarik napas dalam sendiri caranya adalah  bapak pandu pak Udin menarik napas dalam-dalam sampai dada terasa penuh, kemudian tahan napas dalam hitungan tiga dan terakhir keluarkan napas pelan-pelan sambil meniup dalam hitungan tiga.( catatan :  jika pasien dilakukan pembatasan gerak atau pengekangan di jelaskan juga pada keluarga.)

”. Pada level II dimana keadaan pak Udin mulai agak tenang, sudah tidak mengamuk lagi walau mukanya masih tegang, dan mudah tersinggung, maka saya akan mengajarkan pak Udin untuk menyalurkan marahnya dengan memukul Sansak tinju…”

 Dan pada level III dimana kondisi pak Udin sudah lebih stabil dan bisa di ajak komunikasi dengan baik, perawat dan keluarga akan membantu pak Udin dalam mengatasi atau mengontrol perilaku kekerasanya.. ”Bagaimana pak, apakah ada yang kurang kurang pahami  ?”Bagaimana kalau sekarang bapak latih pak Udin dandidampingi oleh saya?” (perawat mendampingi keluarga melatih pasien).

Fase Terminasi:

“ Bagaimana perasaan bapak setelah kita diskusi?’ Bisa bapak  ulangi lagi apa itu perilaku kekerasan ? dan apa penyebab serta tanda-tandanya dan apa yang harus dilakukan…… Bagus sekali bapak  sudah mampu menyebutkan kembali……luar biasa …….  . Nach saya akhiri dulu diskusi kita dan besok kita ketemu lagi dan akan kita diskusikan tentang cara merawat pak Udin termasuk obat…waktunya kira-kira jam 10.00 an ya…..!”Assalamualaikum Wr Wb

d. Evaluasi

Evaluasi respon umum adapatasi pasien dilakukan setiap akhir shif oleh perawat. Pada pasien perilaku kekerasan evaluasi meliputi: perilaku : seperti menentang, mengancam, mata melotot; Verbal : bicara kasar, intonasi sedang, enghina orang lain, menuntut dan berdebat, Emosi : labil, mudah tersinggung, ekspresi tegang, merasa tidak aman, fisik : pandangan tajam, tekanan darah masih meningkat

e. Rujukan

Hasilnya  Jika kondisi tersebut tercapai, perawatan dilanjutkan pada level intensif 2, jika tidak tercapai maka pasien tetap berada di perawatan level intensif I.

  1. Dokumentasi

Dokumentasikan semua tindakan yang sudah dilaksanakan dan hasil evaluasi dari tindakan tersebut serta alasan tindakan dari pembatasan gerak / pengekangan dan alasan penghentian dari pembatasan gerak / pengekangan

2.  Asuhan keperawatan Intensif 2 ( 25 – 72 jam  )

a.. Diagnosa

PERILAKU KEKERASAN

b. Tindakan Keperawatan

3)      Tujuan :

Pasien tidak membahayakan dirinya, orang lain dan lingkungan

4)      Tindakan:

(1)   Komunikasi terapeutik

  • Bicara dengan tenang
  • Vokal jelas dan nada suara tegas
  • Intonasi rendah
  • Gerakkan tidak tergesa-gesa
  • Pertahankan posisi tubuh
  • Jaga jarak 1 – 3 langkah dari klien

(2)   Siapkan lingkungan yang aman

  • Lingkungan tenang
  • Tidak ada barang-barang yang berbahaya atau singkirkan semua benda yang membahayakan

(3)   Kolaborasi

  • Berikan obat-obatan sesuai standar medik seperti transquiliser sesuai program terapi (Pengobatan dapat berupa suntikan valium 10 mg IM/IV  3 – 4 x I amp / hari dan suntikan Haloperidol ( Serenace ) 5 mg, 3- 4 x 1amp / hari )
  • Jelaskan pada pasien jika ada perubahan dalam terapi medis seperti penambahan obat oral
  • Pantau keefektifan obat-obatan dan efek sampingnya

(4)   Buat perjanjian dengan klien untuk mempertahankan perilakunya

  • Bantu klien menggunakan kontrol diri yang diperlukan, seperti latihan mengendalikan emosi secara fisik : memukul sansak
  • Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat

SP 6 pasien

–         Melatih pasien memukul sansak

ORIENTASI

“Assalamualaikum pak/ Bu “

“Bagaimana perasaan bapak / ibu pagi ini?”

“Tampaknya bapak / ibu lebih tenang hari ini, jadi bapak / ibu hari ini akan saya  coba kami  ajarkan cara mengatasi marah dengan secara fisik yaitu memukul sansak, waktunya lebih kurang 10 menit”

KERJA

“ Nach… bapak / ibu sekarangsaya akan mengajarkan  salah satu atau cara lain yang cukup baik dalam  mengatasi kesal atau marah adalah dengan menyalurkan marah dengan memukul sansak….. bapak bisa memukul sansak sekuat-kuatnya sampai perasaan bapak menjadi lega….! “ “ ayo…..pak lihat contoh saya…..” “ Sekarang ….bapak coba ya…….”” Bagus…….!”

“ Nah..,  sekarang  bapak/ ibu bisa lakukan cara tersebut setiap hari,  sampai perasaan nyaman di hati bapak / ibu”

 

TERMINASI

“Bagaimana perasaan bapak/ ibu setelah kita latihan tadi?”

“ Coba bapak /ibu sebutkan lagi kita latihan apa hari ini dan apa tujuannya?.”

“ baik bapak / ibu…… silahkan bapak / ibu selama tidak dengan saya bapak/ibu bisa latihan ya…“ nanti sejam lagi saya akan kesini menemani bapak / ibu dan saya akan mengajarkan cara mengendalikan marah secara fisik” ya lebih kurang 15 menit waktunya “

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Evaluasi

Evaluasi respon umum adapatasi pasien dilakukan setiap akhir shif oleh perawat. Pada pasien perilaku kekerasan evaluasi meliputi: perilaku : seperti menentang, mengancam, mata melotot; Verbal : bicara kasar, intonasi sedang, enghina orang lain, menuntut dan berdebat, Emosi : labil, mudah tersinggung, ekspresi tegang, merasa tidak aman, fisik : pandangan tajam, tekanan darah masih meningkat

g. Rujukan

Hasilnya  Jika kondisi tersebut tercapai, perawatan dilanjutkan pada level intensif 3, jika tidak tercapai maka pasien tetap berada di perawatan level intensif I.

h. Dokumentasi

Dokumentasikan semua tindakan yang sudah dilaksanakan dan hasil evaluasi dari tindakan tersebut serta alasan tindakan dari pembatasan gerak / pengekangan dan alasan penghentian dari pembatasan gerak / pengekangan

 

3.  Intensif 3 ( 72 jam – 10 hari )

a.. Diagnosa

RESIKO PERILAKU  KEKERASAN

b.. Tindakan Keperawatan

1 Tujuan :

Pasien tidak melakukan tindakan kekerasan

2  Tindakan

a) Komunikasi terapeutik

  • Bicara dengan tenang
  • Vokal jelas dan nada suara tegas
  • Intonasi rendah
  • Gerakkan tidak tergesa-gesa
  • Pertahankan posisi tubuh
  • Jaga jarak 1 – 3 langkah dari klien

b) )Siapkan lingkungan yang aman

  • Lingkungan tenang
  • Tidak ada barang-barang yang berbahaya atau singkirkan semua benda yang membahayakan

c)  Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan

  • Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
  • Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis
  • Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
  • Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
  • Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
  • Diskusikan bersama pasien perilaku yang biasa dilakukan pada saat  marah      secara: verbal,terhadap orang lain,terhadap diri sendiri, terhadap lingkungan
  • Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
  • Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara:

v  Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya

v  Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien

v  Obat

( Untuk  melatih pasien dalam mengontrol Perilaku kekerasan Lihat Modul BC )

 

4        Kolaborasi

  • Berikan obat-obatan sesuai standar atau program terapi medis yaitu obat oral seperti Haloperidol 5 mg 3 x 1 tab / hari dan artane atau arkine 2 mg 3 x 1 tb / hari
  •  Pantau keefektifan obat-obatan dan efek sampingnya
  • Observasi tanda-tanda vital setiap 8 jam

4        Observasi

  • Observasi prilaku  dalam 24 jam
  • Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok

Tindakan keperawatan untuk keluarga

a. Tujuan

Keluarga dapat merawat pasien di rumah

b. Tindakan

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien

2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,

tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)

3)  Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain

4)      Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan

a). Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat

b). Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapt melakukan kegiatan tersebut secara tepat

c). Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan

5)   Buat perencanaan pulang bersama keluarga

d. Evaluasi

Evaluasi respon umum adapatasi pasien dilakukan setiap akhir shif oleh perawat. Pada pasien perilaku kekerasan evaluasi meliputi: perilaku : seperti menentang, mengancam, mata melotot; Verbal : bicara kasar, intonasi sedang, enghina orang lain, menuntut dan berdebat, Emosi : labil, mudah tersinggung, ekspresi tegang, merasa tidak aman, fisik : pandangan tajam, tekanan darah masih meningkat

  1. Rujukan

Hasilnya  Jika kondisi tersebut tercapai, perawatan dilanjutkan pada keluarga dan di rujuk ke perawat CMHN

  1. Dokumentasi

Dokumentasikan semua tindakan yang sudah dilaksanakan dan hasil evaluasi dari tindakan tersebut serta surat rujukan

Protokol Pengikatan :

    1. Persiapan
  1. Formasi tim  minimal 3 orang (termasuk security)
  2. Pilih alat pengikat yang aman dan nyaman
    1. Pelaksanaan
  1. Lakukan pengkajian fisik klien
  2. Jelaskan  perilaku klien ( kejadian )sebelum pengikatan
  3. Jelaskan bahwa saudara membantu mengontrol perilaku klien
  4. Pengikatan dilakukan di tempat tidur bukan disisi tempat tidur
  5. Beri bantal
  6. Observasi setiap 15 – 30 menit, termasuk tanda vital
  7. Lakukan latihan anggota gerak setiap 2 jam
  8. Beri makan dan minum secara teratur serta obat-obatan sesuai program
  9. Atur posisi tubuh klien saat makan atau minum
  10. Bantu BAK,BAB dan kebersihan diri
  11. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi medik
  12. Dokumentasikan semua tindakan
    1. Tindak lanjut

Protokol Pelepasan pengikatan :

  1. Jelaskan pada pasien bahwa ikatan akan dilepas, jika klien tidak mengulangi perbuatan atau dapat mengontrol perilakunya
  2. Buat kontrak dengan klien bahwa perawat akan melakukan pengikatan kembali apabila klien mengulang perbuatannya atau perilakunya tidak terkontrol kembali
  3. Katakan dengan suara lembut, hindari nada yang bersifat ancaman
  4. Buka ikatan jika pasien mengontrol perilakunya dengan ditemani staf lain.
  5.  Melepaskan ikatan secara bertahap dimulai dengan melepaskan satu ikatan, bila pasien tidak berontak lepaskan ikatan lainnya dan seterusnya
  6. Bantu pasien menggerakkan anggota gerak
  7. Dudukkan pasien perlahan-lahan
  8. Ukur tanda-tanda vital
  9. Tanya klien apakah merasa pusing atau penglihatan berkunang-kunang.
  10. Anjurkan klien untuk mulai berdiri dan berjalan, bila tidak pusing atau mata berkunang-kunang

Form : 1

TINDAKAN KEPERAWATAN MEMBUKA PENGIKATAN

No

Tindakan

Ya

Tidak

Keterangan

Respons Klien

Respons Perawat

1 Penjelasan kontrak
2 Buka ikatan bertahap
3 Membantu pergerakan
4 Membantu duduk
5 Tanyakan keluhan
6 Observasi keadaan umum
7 Observasi perilaku

Ket : Beri tanda ( V ) pada kolom Ya atau Tidak

Perawat Penanggung Jawab                                                      Mengetahui,

Kepala Ruangan

(                                   )                                                           (                       )

Form : 1

OBSERVASI  TANDA-TANDA VITAL

PERAWATAN INTENSIF

Nama :……………   Tanggal:…………… Ruangan :……………..

Waktu

Tensi

Nadi

Pernafasan

Petugas

06.00
07.00
08.00
09,00
10.00
11/00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
00.00
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00

Form : 2

OBSERVASI PERAWATAN INTENSIF

PENGEKANGAN

Nama :……………   Tanggal:……………………. Ruangan :……….

Waktu

Mandi

Makan

Minum

BAB

BAK

Area Pengikatan

ROM

Petugas

06.00
06.30
07.00
07.30
08.00
08.30
09.00
09.30
10.00
10,30
11.00
11.30
12.00
12.30
13.00
13.30
14.00
14.30
15.00
15.30
16.00
16.30
17.00
17.30
18.00

Form : 3

OBSERVASI PERAWATAN INTENSIF

PEMBATASAN GERAK

Nama :……………   Tanggal:……………………. Ruangan :…………………

Waktu Tensi Nadi Pernafasan Makan Minum BAB BAK Petugas
06.00
07.00
08.00
09,00
10.00
11/00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
00.00
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2012 in Uncategorized

 

Askep Anemia

ANEMIA

 

I.       DEFINISI

  Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit dan kadar Hb dalam setiap milliliter kubik

                                                                        (diklat unimas. 2007)

 

  Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb atau hitung eritrosit lebih rendah dari nilai normal dan dikatakan sebagai anemia bila kadar Hb < 14 gr/dl dan Hb < 41 % pada pria atau Hb < 12 gr/dl dan Hb < 37 % pada wanita

                                                                        (diklat unimas. 2007)

 

  Anemia adalah penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai dibawa rentang nilai yang berlaku bagi orang sehat.

                                                                        (diklat unimas. 2007)

 

II.    ETIOLOGI

Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik paling banyak disebabkan oleh infeksi cacing tambang. Infeksi cacing tambang pada seorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia. Bila disertai dengan mal nutrisi baru akan terjadi anemia.

Penyebab lain dari anemia :

  • diet yang tidak mencukupi
  • absorsi yang menurun
  • kebutuhan yang meningkat pada kehamilan laktasi
  • perdarahan pada saluran cerna
  • hemoglobinusia
  • penyimpanan zat besi yang kurang. Contoh : hemosiderosis pasei
  • kehilangan darah ( perdarahan ), trauma, kecelakaan
  • gangguan produksi eritrosit
  • meningkatnya pemecahan eritrosit ( hemolisis )
  • kekurangan sel darah merah

 

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI

Narasi

Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit oksigen yang dikirim kejaringan. Kehilangan darah yang mendadak seperti pada perdarahan menimbulkan simtomalogi sekunder hipovelemi dan hipoksia. Tanda dan gejala yang sering muncul adalah gelisah, taki kardi, sesak nafas, diafosesis dan shock. Mekanisme kompensasi tubuh bekerja melalui :

1.     peningkatan curah jantung

2.     peningkatan pelepasan oksigen oleh hemoglobin

3.     mengimbangkan volume plasma dengan monorik cairan dari          sela – sela jaringan

4.     retribusi aliran darah keorgan – organ salah satu dari tanda – tanda yang sering muncul dikeitkan dengan anemia adalah pucat, ini umumnya diakibatkan oleh berkurangnya volume darah

 

IV.      GEJALA KLINIS

Selain gejala – gejala umum anemia difesiensi Fe yang berat akan mengakibatkan perubahan kulit dan mulkosa yang progresif, seperti : lidah yang halus, keilosis dan sebagainya. Serta didapat tanda – tanda malnutrisi, hilangnya daya ingat, ikterus, spenomegali, demam, purpura dan perdarahan.

                                                                   ( Arif mansyur, 1999)

 

V. PENATALAKSANA

  • Tergantung  : berat ringan anemia

                            Etiologi anemia

                            Akut atau kronis anemia

  • Tranfusi darah bila perlu
  • Menghilangkan penyebab dan mengurangi gejala
  • Pemberian preposat Fe :
  • fero sulfat 3 x 325 mg secara oral dalam keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikkan bertahap. Pada pasien yang tidak kuat dapat diberi bersama makan.
  • Fero glukonat 3 x 200 mg secara oral sehabis makan bila terdapat intoleran terhadap pemberian preposat Fe oral atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral, dapat diberikan secara parenteral dengan dosis 25 mg Fe ( 3 mg / kg BB ) untuk tiap 9 % penurunan kadar Hb dibawa normal
  • Iron dekstran mengandung Fe 50 mg / dl. Diberikan secara intra muscular mula – mula 50 mg. kemudian 100 – 250 mg tiap 1 – 2 hari sampai dosis sebagai dosis percobaan, bila dalam 3 – 5 menit tidak menimbulkan reaksi boleh diberikan 250 – 500 mg.

 

VI. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

1.     Dx 1. Gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan kurangnya suplei oksigen dalam tubuh.

2.     Dx 2. gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kurangnya pengangkut sel darah merah keseluruh tubuh.

3.     Dx 3. gangguan asupan nutrisi berhubungan dengan peningkatan asam lambung.

4.     Dx 4. gangguna pola aktifitas berhbungan dengan kelemahan fisik.

 

VII. INTERVENSI

Dx 1. gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen dalam darah.

Intervensi :

1.     lakukan hubungan yang baik antara pasien, keluarga pasien dan jelaskan asuhan keperawatan yang akan kita lakukan

    R/ terbina hubungan yang baik antara pasien dan perawat dan pasien mengerti tentang tindakan yang akan kita lakukan

2.     observasi TTV dan keadan umum pasien

R/ untuk mengetahui perkembangan pasien dan keadaannya

3.     berikan oksigen bila perlu

R/ asupan oksigen terpenuhi

4.     berikan posisi senyaman mungkin

R/ memperlancar peredaran darah

5.     kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan

 

Dx 2. gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kurangnya pengangkut sel darah merah keseluruh tubuh

Intervensi :

1. lakukan hubungan yang baik antara pasien, keluarga pasien dan jelaskan asuhan keperawatan yang akan kita lakukan

    R/ terbina hubungan yang baik antara pasien dan perawat dan pasien mengerti tentang tindakan yang akan kita lakukan

2. observasi TTV dan keadan umum pasien

R/ untuk mengetahui perkembangan pasien dan keadaannya

3. berikan posisi senyaman mungkin

R/ untuk relaksasi dan memperlancar peredaran darah

4. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan

 

 

Dx 3. gangguan asupan nutrisi berhubungan dengan peningkatan asam lambung

Intervensi :

1. lakukan hubungan yang baik antara pasien, keluarga pasien dan jelaskan asuhan keperawatan yang akan kita lakukan

    R/ terbina hubungan yang baik antara pasien dan perawat dan pasien mengerti tentang tindakan yang akan kita lakukan

2. observasi TTV dan keadan umum pasien

R/ untuk mengetahui perkembangan pasien dan keadaannya

3. kolaborasi dengan ahli gizi

          R/ untuk pemberian asupan nutrisi yang tepat

4. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan

 

 

Dx 4. gangguna pola aktifitas berhbungan dengan kelemahan fisik.

Intervensi :

1. lakukan hubungan yang baik antara pasien, keluarga pasien dan jelaskan asuhan keperawatan yang akan kita lakukan

    R/ terbina hubungan yang baik antara pasien dan perawat dan pasien mengerti tentang tindakan yang akan kita lakukan

2. observasi TTV dan keadan umum pasien

R/ untuk mengetahui perkembangan pasien dan keadaannya

3. berikan posisi senyaman mungkin

          R/ untuk relaksasi dan agar pasien bias beristirahat dengan tenang

4. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.     Carpenito Lynda Juall. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Penerbit Buku Kedokteran EGC : 1997

2.     Hilman RS. Ault KA iron Deficiency Anemia. Hematology In Clinital Practice. New york : Mc.Graw Hill. 1995 : 72 – 85.

3.     Lanzkawsky P.Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology of Infacy and oncology. Edisi 2. New york.. cushchill Livingstone.Inc 1995

4.     Nantan DG OSICI FA. Iron deficiency Anemia. Hematology of  Infacy and Childhood. Edisi I. Philadelphia Sounders 1974.

5.     Recht M. Pearson HA. Iron Deficiency Anemia. Princip Les and Practice. Edisi ke -3. Philadelphia 1999

6.     Schauart E. iron. Deficiency Anemia Nelson Text Book of Pediatrics. Edisi 16. Philadelphia 2000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGKAJIAN DATA KEPERAWATAN

 

No. register              : 016170

Ruang                      : Perawatan

Tgl / jam MRS         : 22 januari 2008 / 12.30

Tgl pengkajian         : 23 januari 2008

Diagnosa medis        : Anemia

 

I.       IDENTITAS

a.     Biodata pasien  

Nama                             : Tn “ A “

Jenis kelamin                   : Laki – laki

Umur                             : 46 tahun

Agama                           : Islam

Suku / Bangsa                 : Indonesia

Pendidikan                    : SMP

Pekerjaan                      : Tani

Alamat                           : Pandan – kemlagi

 

b.     penanggung jawab

Nama                             : Ny “ S “

Jenis kelamin                   : Perempuan

Umur                             : 32 tahun

Agama                           : Islam

Suku / Bangsa                 : Indonesia

Pendidikan                    : SMP

Pekerjaan                       : Ibu rumah tangga

Alamat                           : Pandan – kemlagi

 

II. RIWAYAT KESEHATAN

a.     keluhan utama

pasien mengatakan lemas

b.     Riwayat penyakit sekarang

Saat dirumah pada hari jumat tanggal 20 januari 2008, pasien mengatakan badannya lemas dan pusing, Tanggal 22 januari 2008 jam 19.00 pasien dibawa ke RSUD RA. BASOENI dan dianjurkan untuk rawat inap.

c.      Riwayat penyakit dahulu

Pasien mengatakan, sebelumnya pasien tidak perna sakit seperti ini dan pasien belum pernah masuk rumah sakit

d.     Riwayat penyakit keluarga

Pasien mengatakan tidak ada penyakit keluarga yang menurun dan menular. Misalnya : DM, paru – paru, hepatitis, AIDS.

e.      Riwayat alergi

Pasien mengatakan pasien tidak pernah alergi terhadap               obat – obatan, makanan, dan minuman

 

 

III. POLA AKTIFITAS SEHARI – HARI

 

No

Pola aktifitas

Dirumah

Dirumah sakit

1.

Nutrisi :

  • Kebiasan makan
  • Menu
  • Makanan kesukaan
  • Makanan pantangan

 

  • Selera makan
  • Jumlah minum

 

 

  • Gangguan

 

3x sehari porsi sedang

Nasi, tempe, tahu

Semua suka

Tidak ada

 

Sedikit tapi sering

4 – 5 gelas sehari

 

 

 

Tidak ada

 

Bubur + kuah sup

Semua suka

Makanan yang berlemak

Menurun / kurang

Pasien minum sedikit 7 gelas (1000cc)

 

Tidak ada

2

Eliminasi :

  • BAK

   Frekuensi

   Warna

   Volume

   Gangguan

 

  • BAB

   Frekuensi

   Warna

   Konsistensi

   Gangguan

 

 

 

 

 

 

 

3x sehari

Kuning jernih

600 cc

Tidak ada

 

 

1x sehari

Kuning

Padat

Tidak ada

 

 

 

3x sehari

Kuning jernih

500 cc

Tidak ada

 

 

1x sehari

Kuning

padat

Tidak ada

No

Pola aktifitas

Dirumah

Dirumah sakit

3

Aktifitas fisik

  • Kebiasan

 

  • Waktu senggang

 

  • Gangguan

 

 

Bekerja

 

Tidur, istirahat, nonton tv

Tidak ada

 

Tidur sebelum minum obat

Mengobrol dengan keluarga

Tidak ada

4

Istirahat fisik

  • Kebiasaan

 

 

  • Waktu

 

  • Perlengkapan

 

  • Penerangan

 

  • Gangguan

 

Tidur tidak teratur, tidur setelah bekerja

 

Malam 14.00 – 16.30

 

Tempat tidur, kasur, sprei, bantal, selimut

Lampu

 

Tidak ada

 

 

Tidur setelah minum obat

 

Tidak teratur

 

Tempat tidur, kasur, sprei, bantal,selimut

Lampu

 

Tidak ada

5

Personal hygiene

  • Mandi

 

  • Keramas

 

  • Gosok gigi

 

  • Ganti baju

 

  • Gangguan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2x sehari

 

1 minggu sekali

 

Dalam 1 hari 2x sehari

Dalam 1 hari 1x sehari

Tidak ada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sehari 1x dan diseka

Pasien tidak keramas

Sehari 1x

 

Sehari 1x

 

Tidak ada

6

Ketergantungan

  • Kopi
  • Merokok
  • alkohol

 

Ya

Ya

Tidak ada

 

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

         

 

I.             DATA PSIKOLOGIS

a. Status emosi

    pasien koperaktif ditiap tindakan

b. kosep diri

  • Body image

Pasien mengatakan dirinya memang sedang sakit dan pasien selalu patuh pada tindakan keperawatan

  • Self ideal

Pasien ingin lekas sembuh

  • Self esteem

Pasien merasa telah mendapatkan perawatan yang layak

  • Role performance

Pasien sebagai ayah dan kepala rumah tangga

  • Self identity

Pasien adalah seorang laki – laki berumur 46 tahun dan saat ini menjadi pasien diruang perawatan Zaal umum RSUD. RA BASOENI

 

II.          DATA SOSIAL

1. Pendidikan                                : SMP

2. Sumber penghasilan                 : –

3. Pola komunikasi                       : pasien mudah diajak bicara, dalam berbicara sehari – hari menggunakan bahasa jawa

4. Pola interaksi                              : pasien berinteraksi dengan baik, tidak tertutup dan pasien mampu menjawab dengan lancar

 

III.       DATA SPIRITUAL

Pasien beragama islam, tapi selama dirumah sakit pasien tidak bias sholat karena bed res pasien Cuma bias berdoa agar segera cepat sembuh.

 

 

 

IV.      PEMERIKSAAN FISIK

1. keadaan umum                 : lemah

2. kesadaran                            : composmenthis        GCS : 4 – 5 – 6

3. tanda – tanda vital              :  – TD    : 130/90

                                                  –  RR   : 20

                                               – Nadi  : 88

                                               – Suhu : 36,6

4. kepala

  • Ekspresi wajah                          : wajah kusam dan kusut
    • Rambut                              : bersih, hitam, agak bergelombang, tidak ada ketombe, rambut lurus
    • Mata                                    : agak cekung, pengelihatan jelas, sclera berwarna merah mudah keputih – putihan, konlungtiva berwarna merah mudah keputih – putihan
    • Telinga                               : simetris, telinga kanan dan kiri tidak ada secret atau serumen, pendengaran baik
    • Hidung                                : simetris, tidak ada secret dan tidak ada polip dan tidak terpasang O2
    • Mulut                                  : simetris, mulkosa mulut kering, lidah pucat dan gigi bersih, reflek menelan baik
    • Leher                                  : tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tyroid

 

5.Thorax

  • Inspeksi                               : simetris, rongga dada agak tinggi dari perut, tidak ada bekas operasi
  • Palpasi                                : tidak ada benjolan, tidak ada area nyeri tekan
  • Perkusi                               : terdengar suara sonor pada rongga dada atas
  • Auskultasi                           : terdengar suara vesicular pada alveoli

 

 

 

6.     Abdomen

  • Inspeksi                             : simetris, tidak ada pembesaran area, rongga perut lebih rendah dari rongga dada, tidak ada bekas operasi
  • Palpasi                              : terdapat nyeri tekan diarea umbilicus
  • Perkusi                                       : terdengar bunyi tympani, tidak ada pembesaran pada hati
  • Auskultasi                                  : terdengar bunyi bising usus 12x/menit

 

7.     Ekstermitas

  • Atas                                   : simetris, jari tangan lengkap, terpasang infus ditangan kanan, tangan bias digerakkan dengan baik
  • Bawah                              : simetris, jari kaki lengkap, kaki bias digerakkan dengan baik

 

8.     Genetalia                               : tidak terkaji

 

V.         DATA PENUNJANG

Tanggal 23 – 01 – 2008

  • Hasil pemeriksaan darah / urine

     Test fungsi hati

         – SGOT          10,2

         – SGPT           8,1

     Test fungsi ginjal

         – BUN / UREA     14,5

     Kreatinin serum    0,7

     Test diabetes

         – gula darah 2 jam po   75,8

  • Hasil pemeriksaan : hematologi

             Hb           : 9,2 g/dl

             Lucocyt   : 1000 / mm

             Trombocit  : 80.000 / mm

             LD              : 20 mm / jam

 

 

 

 

IX. THERAPY

Infuse Pz 7 tpm

   Inj. Cefo 3 x 1 gr

Inj. Norages 3 x 1 amp

Inj. Eticlof 3 x 1 amp

Lab : FL, GDA, LFR, RFR, Foto thorax

 

ANALISA DATA

 

Nama      : Tn “ A “                                        Ruang            : Keperawatan

Umur      : 46 tahun                                       Jenis kelamin : laki – laki

 

No

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

DS :

 Pasien mengatakan lemah

 

 

 

DO :

 k/u lemah

 TD : 130 / 90

 S / N : 36,6 / 88

 Wajah kesakitan

 Terpasang oksigen

 

DS :

 Pasien mengatakan sakit perut bagian kanan atas

 

 

 

 

DO :

 k/u lemah

 perut membesar

 wajah kesakitan.

TD : 130 / 90

 S / N : 36,6 / 80

 

 

DS :                                       

 Pasien mengatakan mual

 

DO :

k/u : lemah

TD : 130/90  s/n : 36,6/88

– porsi makan menurun

 

 

Kadar hemoglobin menurun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketidak seimbangan antara suplai oksigen        ( pengiriman  ) dan kebutuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peningkatan asam lambung

 

Gangguan perfusi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gangguan rasa nyaman ( nyeri )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gangguan asupan nutrisi

      

DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

Nama : Tn. A                                            Ruang : Keperawatan

Umur :  46 tahun                                      Jenis Kelamin : Laki – Laki

 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

 

 

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

3.

Gangguan perpusi berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrien ke sel.

 

k/u lemah

TD : 130/90    s/n : 36,6/88

Wajah kesakitan

Terpasang oksigen

 

Gangguan rasa nyaman  ( nyeri ) berhubungan dengan ketidak keseimbangan antara suplai oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan.

 

k/u lemah

wajah kesakitan

TD : 130/80   s/n : 36,6/88

 

Gangguan asupan nutrisi berhubungan dengan peningkatan asam lambung

 

k/u lemah

nafsu makan menurun

TD : 130/90   s/n : 36,6/88

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2012 in Uncategorized